Pandemi Covid-19: Antara Introspeksi dan Sadar Relasi

Namun, perlu diketahui bahwa semenjak virus ini mewabah, semua hutan, jalan, perumahan, dan semua lingkungan setiap provinsi menjadi lebih bersih. Terutama kota-kota besar di indonesia sangat tertolong oleh penyebaran virus ini, karena polusi udara berkurang drastis. Ambil contoh Kota Jakarta yang selama 28 tahun memiliki udara yang sangat buruk, namun data yang tercatat hari ini adalah kualitas udara Kota Jakarta berkategori baik dengan nilai PM2,5 rata-rata sebesar 18,46 µg/m3.

Kadang kita bertanya yang menjadi virus sebanarnya bagi alam itu siapa? Kita, sebagai makhluk yang sering mengotori lingkungan atau Corona, makhluk yang kehadirannya bisa membuat lingkungan menjadi lebih baik. Silakan Anda bermuhasabah diri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Problem yang juga ada pada masa ini adalah sebagian besar aktivitas masyarakat dilakukan di dalam rumah sehingga mengakibatkan sempitnya ruang sosialisasi antarmasyarakat. Di Indonesia, keadaan ini memaksa semua kegiatan dibatasi, masjid dibatasi kegiatannya, acara pernikahan atau walimah tidak diizinkan lagi, tahlilan, dan kegiatan kebudayaan lainnya yang menjadi sarana perekat persatuan umat tidak diperbolehkan lagi. Bahkan acara pemakaman tidak lagi bisa untuk diziarahi dan diantarkan ke TPU seperti dulu, selain keluarga korban dan petugas kesehatan.

Di sinilah mereka sadar bahwa kebersamaan yang terjadi sebelum Corona adalah begitu indah. Inilah yang saya sebut sebagai ajang untuk sadar akan relasi. Relasi masyarakat satu dengan yang lain tidak dapat dipisahkan, karena manusia sebagai makhluk yang diposisikan sebagai zoon politicon, yakni sangat membutuhkan orang lain dalam menjalani kehidupan itu dan tidak dapat dicabut kebenarannya.

Relasi dalam bahasa Arab kita bisa sandingkan dengan silaturahmi atau semua padanan kata yang berkaitan dengan hubungan antarmasyarakat. Di dalam hadits Nabi Muhammad disebutkan, “Barang siapa yang ingin diperpanjang umurnya atau diperluas rezekinya maka sambunglah tali silaturahim”.

Bagi umat Islam Indonesia, ini adalah ajang untuk sadar akan persatuan dan persaudaraan. Tali silaturahim sebagai jembatan untuk memperkuat pesaudaraan tidak boleh hilang karena peraturan pemerintah yang membatasi kegiatan kemasyarakatan. Justru karena situasi seperti ini, orang muslim khususnya dan masyarakat Indonesia umumnya harus seperti bangunan yang tidak akan mampu berdiri kokoh jika tidak ada komponen-komponen pelengkapnya. Eratnya relasi antarmasyarakat juga terlihat ketika masyarakat kampung maupun perkotaan melakukan gotong-royong membersihkan lingkungan dan tanggap peduli terhadap para korban Corona. Bantuan berupa donasi, alat kesehatan, dan sebagainya tiap hari silih berganti dari semua kalangan, dari lembaga pendidikan, lembaga sosial, masyarakat sipil, pejabat, hingga pengusaha tergugah nuraninnya untuk ikut membantu para korban Corona ini.

Oleh karena itu, pandemi tidak serta merta merugikan, namun di balik itu ada hikmah yang kita dapatkan, rasa rindu akan bertemu, kangen akan silaturahmi, kuatnya relasi untuk tolong-menolong, tergugahnya hati untuk memberi bantuan berupa donasi, dan semangat untuk gotong-royong untuk membasmi Corona sebagai bukti konkret eratnya rasa persaudaraan di tengah pandemi Covid-19.

Wallahu a’lam bi asshowab.

Tinggalkan Balasan