Pandemi Covid-19: Antara Introspeksi dan Sadar Relasi

قل لا يصبنا الا ما كتب الله لنا

“Tidak ada sesuatu pun yang menimpa kita kecuali itu adalah ketetapan dari Allah bagi kita.”

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kita harus haqqulyaqin setiap orang yang terkena Corona pasti adalah ketetapan dari Allah SWT. Setiap orang yang meninggal setelah terkena Corona pun adalah Allah SWT. Tanpa terkena virus pun kematian pasti ada setiap waktu dan setiap saat di dunia ini. Oleh karena itu, kita sebagai mukmin tidak serta merta memvonis semua kejadian yang mengenaskan akhir-akhir ini mutlak karena Corona, tapi tetap harus disandarkan semata-mata kepada Allah SWT. Sekian banyak dampak yang dirasakan dari virus ini, pernahkah kita bertanya-tanya kepada diri kita sendiri, “kenapa”, “kok bisa”, atau “bagaimana bisa” Allah menurunkan bencana seperti ini kepada umat manusia.

Nah, inilah yang saya sebut Corona sebagai ajang bagi kita untuk introspeksi diri atau yang dikenal dengan muhasabah. Introspeksi dalam KBBI berarti peninjauan atau mengoreksi diri terhadap segala kesalahan, kekurangan, atau pun kelemahan yang pernah kita lakukan. Memang secara lahir, Corona sejauh ini diklaim sebagai virus yang berasal dari binatang kelelawar. Namun, pernahkah kita berpikir ada sebuah sebab batin yang tak mampu kita tangkap dengan akal pikiran rasional yang melatarbelakangi semua ini. Oleh karena itu, coba kita renungi lagi konsep muhahasabah yang diintruksikan Allah SWT. Dalam surah Al-Hasyr ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”

Introspeksi diri, menyadari kesalahan yang telah dilakukan, dan hasilnya harus diorientasikan untuk hari esok. Artinya, jika memang Allah menakdirkan Corona lenyap, maka muhasabah diri harus tetap dilakukan. Ini sebagai bukti bahwa eksistensi kita sebagai orang mukmin yang bertakwa tidak hanya akan meminta ketika susah, namun setiap saat dan setiap waktu kita jadikan Allah sebagai tempat meminta dan berserah diri. Walaupun kadang banyak orang awam, ketika Allah memerintahkan kita untuk berdoa dan kita sebagai hamba melaksanakan perintah-Nya, memang terlihat ada unsur transaksional (artinya akan diberikan ketika meminta, tidak akan diberikan ketika tidak meminta). Namun, ketahuilah pada hakikatnya Allah sudah memberikan begitu banyak nikmat yang memang belum bisa kita sadari karena kurangnya kita bermuhasabah diri terhadap hal tersebut.

Sebenarnya, dengan melaksanakan konsep ini maka setiap hari yang dilalui orang mukmin tidak akan dikekang oleh perasaan bingung sebagaimana situasi yang melanda dunia ini. Coba kita perhatikan, di samping dampak negatif dari wabah ini, begitu banyak hikmah yang tentu Allah berikan kepada kita. Sebagai contoh, sebelum ada Corona lingkungan sekitar kita telah dikotori oleh polusi udara, sampah, limbah, dan sebagainya.

Tinggalkan Balasan