Pandemi dan Sikap Santri

Pendekatan kultur santri dapat dipahami dengan kondisi dan penempaan-penempaan yang sudah dilalui di pesantren. Penempaan itu menjadi satu sumbangan yang luar biasa untuk perkembangan mental. Di mana mental untuk bersikap mandiri dan tidak gampang kagetan merupakan modal tersendiri bagi santri dalam menghadapi tantangan. Secara kultul, santri memiliki mental kemandirian yang dihasilkan dari penempaan-penempaan selama di pesantren itu.

Artinya, seorang santri tidak seharusnya bergantung pada siapa pun, justru turut mewarnai dan menjadi sumber inspirasi bagi lingkungan dalam menghadapi ragam kondisi dan perubahan-perubahan yang terjadi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pendekatana budaya atau tradisi sosial yang sudah berlangsung secara turun temurun dapat dimaknai dengan pendekatan almukhafadhoh al qadimi shalih, wal akhdu bil jadidil aslah. Akulturasi budaya yang diwariskan oleh leluhur dan dikembangkan oleh Wali Songo, misalnya, adalah modal untuk menghadapi gerak dan perubahan sosial.

Dengan pendekatan itulah, santri menjadi sangat fleksibel geraknya, mampu berbaur dengan siapa pun, mampu menjadi barometer gerakan untuk menemukan solusi atas problematika yang terjadi. Sehingga, walaupun santri selalu sarungan, bukan berarti tertutup dengan kebudayaan lama warisan leluhur. Bisa jadi dengan keterbukaan inilah, seorang santri menjadi ruang bagi kehidupan sosialnya. Oleh sebab itu, menjaga lebih sulit daripada menciptakan. Seperti halnya menjaga warisan budaya kita.

Tinggalkan Balasan