Panggung Sosial

Salah satu tugas jurnalis adalah menyaring dan mengolah hasil wawancara jika ternyata si nara sumber terlalu banyak bicara —lebih-lebih jika isinya melebar ke mana-mana. Seringkali, berdasar pengalaman para jurnalis, hasil wawancara yang berjam-jam lamanya, dengan hasil transkip yang berlembar-lembar banyaknya, oleh editornya ternyata hanya dikutip satu dua kalimat dalam sebuah berita. Sisanya dianggap sampah. Ini menandakan bahwa tidak semua omongan yang keluar dari mulut nara sumber layak dikonsumsi publik, atau memiliki korelasi signifikan dengan masalahnya.

Jika saja Refly Harun dan Andji, dan masih banyak lagi yang lain, menggunakan standar ini, tidak semua omongan Sugik Nur atau Hadi Pranoto diunggah ke kanal Youtube untuk disebarluaskan ke ruang publik. Atau, bisa jadi, Sugik Nur atau Hadi Pranoto dan sembarang orang malah tidak pernah dijadikan nara sumber.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi hari-hari ini menjaga ruang publik tetap “suci” dan “disucikan” sepertinya memang bukan menjadi urusan mereka. Hari-hari ini ruang publik telah berubah menjadi panggung sosial, tempat semua orang berhasrat menjadi pesohor, tempat para pesohor mendulang keuntungan. Juga tempat orang jual tampang.

Tak ada yang salah dengan menjadikan ruang publik sebagai panggung sosial, sepanjang dilakukan dengan profesional.

Tinggalkan Balasan