Klepu adalah nama sebuah desa, terletak sekitar satu setengah kilometer dari ibu kota Kecamatan Sooka, 27 km dari ibu kota Kabupaten Ponorogo, Jawa Tmur. Desa ini dihuni oleh 2.721 warga pemeluk agama yang tidak tunggal; Kejawen, Islam (NU dan Muhammadiyah), dan Katholik. Dinamika pengalaman keberagamaan warga Klepu sangat spesifik dan berliku. Sebelum 1965, mayoritas warga Klepu menganut Islam Kejawen yang mereka sebut sebagai Islam “Natbiti” (Islam sunat-rabi-mati). Artinya, menganut Islam hanya ketika mereka sunat, menikah, dan mati. Hanya sedikit warga Klepu yang Islam santri, yaitu mereka yang hidup di sekitar masjid tua di Dusun Ngapak dan dipimpin oleh Kiai Kurdi.
Pasca-peristiwa 1965, situasi keberagamaan segera berubah secara drastis. Sebagian orang-orang Klepu mulai membanjiri masjid untuk belajar sembahyang lima waktu, mungkin karena ketakutan dianggap sebagai komunis (PKI). Bergabung dengan orang-orang yang sejak semula santri, sebagian kecil mereka kemudian menjadi warga NU dan Muhammadiyah di Klepu. Sebagian yang lain di bawah pimpinan Soemakoen, sang Kepala Desa (waktu itu), mulai berhubungan dengan gereja Katholik di Madiun dan akhirnya menjadi pengikut setia agama itu.

