Dengan begitu, konfigurasi sosial komunitas di Klepu mengalami babak baru. Separo lebih adalah penganut Katholik, sisanya pemeluk Islam yang sebagian besar tetap Kejawen; mereka adalah komunitas “natbiti” yang dulu beramai-ramai mengunjungi masjid demi menghindari tekanan politik pasca-1965 dan kembali pada identitas semula setelah situasi politik mereda.
Rupanya, betapa pun pergeseran itu terjadi, ada satu pemandangan yang tak berubah dari warga Klepu, yakni kebersamaan. Mereka tetap bergotong-royong membangun rumah ibadah tanpa memandang agamanya, merayakan Idul Fitri, secara bersama pula, serta hidup dalam suka dan duka bersama. Tampaknya, kebersamaan itu pula yang membuat DDII (Dewan Dakwah Isamiyah Indonesia) pada 1999 mental, tidak bisa masuk ke Klepu karena dianggap ajaran yang dibawanya dipandang sebagai hanya mengajarkan buku agama, bukan sesrawung antarorang beragama. Sesrawung agama memang lebih penting bagi orang Klepu, karena agama bagi mereka adalah pengalaman praktis-empiris, bukan seonggok teori yang penuh teka-teki.

