Dari situasi dan peta politik seperti itulah akhirnya muncul ke permukaan para penunggang pandemi. Para penunggang pandemi ini, yang satu dengan lainnya, memiliki relasi dan korelasi secara relatif, dan bahkan di antara mereka sudah saling menunggangi. Siapa menunggangi siapa untuk memperoleh keuntungan apa sudah sedemikian karut-marut.
Intinya: pandemi ini janganlah cepat berlalu…

Konfigurasinya bisa kita lihat mulai dari gejala yang seakan-akan muncul dari ruang hampa. Dengan profiling sebagai jelata, mungkin tak berpendidikan dan pengangguran, mungkin ayah atau ibu dari seorang anak atau anak yang tak memiliki orang tua, mereka bermain medsos dari ujung ke ujung negeri ini: tak memercayai pandemi atau percaya bahwa pandemi adalah buah dari konspirasi. Melalui medsos, pesannya menyusup ke dalam ruang-ruang pribadi kita, meremas-remas akal sehat kita.
Mungkin saja mereka memang benar-benar muncul dari ruang hampa. Alias, pesan-pesan yang mereka sebarkan melalui jejaring medsos benar-benar berasal dari ketidaktahuan atau kedunguan. Artinya tanpa motif dan preferensi politik. Tapi oleh para penunggang pandemi lainnya gejala seperti ini kemudian diberi motif, diberi preferensi politik, dan kemudian dikapitalisasi sebagai modal politik.
