Parabel Sebatang Bambu

Sempat terpikir olehnya, apakah mereka tahu sedang dipancing? Namun pikiran tersebut tidak berlangsung lama, tergeser gambaran betapa senang ikan-ikan tadi melahap umpan yang ia tebarkan. Dan kini ia baru menyadari bahwa ia merasa turut senang saat memberi mereka makan. Maka karena hari telah siang, ia tebarkan semua umpan yang tersisa. Hanya, kali ini ia niatkan sebagai sedekah untuk mereka. Untuk beberapa saat, sembari mengemas alat pancingnya, kecipak-kecipuk ikan-ikan itu sungguh membuatnya bahagia.

Setelah permukaan air kembali tenang, ia pun beranjak pulang. Namun baru beberapa langkah, ia mendengar suara benda jatuh ke tanah. Menoleh ke sumber suara itu ia terperangah begitu tahu rupanya itu seekor ikan yang mendarat dekat kakinya. Dan ia tambah terperangah menyaksikan cukup banyak ikan mencolot secara bersamaan kemudian mendarat dekat ikan itu. Takjub sembari berkali-kali mengucap syukur kepada Gusti Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah, ia mewadahi ikan-ikan itu ke dalam ember. Namun kemudian, karena agaknya embernya tidak cukup untuk mewadahi semua ikan-ikan itu, ia berniat bakal mencemplungkan beberapa ikan kembali ke dalam sungai.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sembari terus hanyut si bambu baru ingat beberapa hari lalu saat belum ditebang ia mendengar pemiliknya ngobrol dengan seorang tamu di teras belakang rumahnya. Si tamu bercerita tentang seorang kiai dari bagian timur pulau Jawa menganjurkan tamu-tamunya untuk bersedekah secara rahasia—sembunyi-sembunyi; tanpa diketahui oleh orang lain—untuk melatih diri ikhlas lillahi ta’ala. Seperti misalnya memasukan uang ke kotak amal di masjid atau menjatuhkan uang di pinggir jalan saat tidak ada orang lain. Apabila memang, demikan ia mulai ngedumel lagi, pemiliknya berniat sedekah rahasia dengannya, pertanyaannya: kenapa ia tidak menggeletakannya saja di pinggir jalan saat menuju sungai untuk kemudian bisa jadi bakal ditemukan oleh seseorang yang memanfaatkannya?

Saking serius benak si bambu memikirkan nasibnya sampai-sampai ia tidak menyadari bahwa dirinya telah berhenti di pinggir kali karena tersangkut dahan pohon yang terjuntai ke sungai. Ia baru menyadari setelah seorang lelaki tampak mendekatinya dengan wajah amat gembira hingga-hingga, menurut si bambu, agak sukar digambarkan lewat kata. Betapa bermanfaatkah dirinya bagi lelaki itu, hingga ia memamerkan raut wajah sesenang itu? Ya, itu adalah lelaki yang baru saja mencemplungkan tiga ekor ikan ke dalam sungai.

Begitu melihat bambu itu sekonyong-konyong ia teringat beberapa hari lalu istrinya memintanya membuat jemuran pakaian karena jemuran yang lama bambunya mulai keropos. Maka atas berbagai rezeki yang datangnya tidak disangka-sangka ini, sebagai ungkapan syukur pada Dzat Pemberi Rezeki, ia ekspresikan lewat kegembiraan wajahnya sementara mulutnya berseru, “Alhamdulillah!” serentak bersamaan dengan ucapan hamdalah si bambu—tanpa terdengar oleh lelaki itu—atas apa yang ia alami yang sungguh di luar perkiraannya.

Tinggalkan Balasan