Kemudian “Subhanallah!” seru lelaki itu sembari memanggul si bambu menuju embernya—mendapati tiga ekor ikan yang boleh jadi ia lepaskan tadi mencolot bersama-sama untuk kemudian mendarat beberapa jarak darinya. Mungkin, demikian batin lelaki itu, ikan-ikan itu sudah ditetapkan oleh Gusti Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah sebagai rezekinya. Maka ia pun mengambilnya untuk kemudian bergegas pulang.
Di tengah perjalanan, sembari terus melangkah, dari lokasi pembangunan itu ia mendengar seseorang menyatakan pada seseorang bahwa penjual bambu yang biasa mangkal di sekitar pasar tidak datang; bahkan ia telah mencari ke lain tempat, namun sebatang bambu pun tidak ia dapati. Sepertinya mereka sedang butuh bambu, gumam lelaki itu sembari benaknya mempertimbangkan untuk memberikan bambunya. Kendatipun ia membutuhkannya, namun sepertinya mereka lebih butuh, apalagi ini untuk pembangunan pondok pesantren, tempat pendidikan agama untuk generasi anak bangsa. Di samping itu ia baru saja memperoleh ikan cukup banyak yang dapat ia jual sebagian untuk membeli bambu. Maka ia mendekati mereka untuk kemudian memberikannya.

Sementara si mandor mengucap terima kasih padanya, lagi-lagi si bambu berseru—tanpa terdengar oleh orang-orang itu—penuh kekaguman, “Subhanallah!” Selain jelas kebermanfaatannya kini, rupanya di situ banyak bambu-bambu yang dulu tumbuh serumpun dengannya. Ia bakal menanyakan kabar mereka dan bagaimana cara mereka bisa sampai di sini; juga menceritakan perjalanannya yang, menurutnya, amat mengesankan ini.
Kesugihan, 9:49, 22 Juli 2021
Catatan: Cerpen ini merupakan Juara 1 Lomba Menulis Puisi dan Cerpen Tingkat Nasional Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, Agustus 2021.
