Paradoks Industri Podcast

Perkembangan teknologi informasi telah membuat lanskap media di Indonesia mengalami pergeseran tektonik yang sangat radikal. Radio mulai ditinggalkan oleh para pendengar setianya, televisi konvensional kian kehilangan para penonton, dan di tengah kevakuman ini, muncul sebuah medium baru yang menawarkan kebebasan tanpa batas: media sosial. Media sosial telah berhasil menjadi ruang maya, yang di mana masyarakat dapat berekspresi sesuka hati tanpa harus khawatir dengan norma-norma yang berlaku di kehidupan nyata.

Salah satu platfom media sosial yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat hari ini adalah Youtube. Platfom ini bukan sekedar ruang hiburan atau semata, akan tetapi juga telah berhasil menghidupi jutaan orang. Youtube meberi ruang yang lebih luwes bagi masyarakat. Cukup menulis apa yang saya ingin lihat di kolom pencarian , hanya dengan menunggu tak lebih dari satu detik, Youtube akan menampilkan apa yang saya cari.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Melihat maraknya minat masyarakat terhadap platfom ini, banyak orang berlomba-lomba mejadi youtuber dan menciptakn konsep konten yang menarik dan sekaligus bermanfaat bagi para penonton. Hingga lahirlah fenomena yang belakangan kita sebut dengan “Podcast”.

Sebagai medium berbasis audio-visual yang fleksibel, podcast telah bertransformasi dari sekadar obrolan ala anak tongkrongan yang direkam, menjadi industri raksasa yang memengaruhi cara kita berpikir dan berperilaku. Namun, di balik pertumbuhannya yang pesat, tersimpan sebuah paradoks yang mengkhawatirkan.

Demokrasi di Ruang Digital

Secara sederhana, podcast bisa dimaknai sebagai berkah bagi literasi digital. Berbeda dengan televisi yang dibatasi oleh durasi iklan dan sensor yang rigit, podcast memberikan ruang yang lebih luwes bagi “obrolan panjang” (long-form conversation). Melalui podcast, seorang pakar dapat menjelaskan isu rumit—mulai dari ekonomi makro, filsafat, hingga kesehatan mental—selama berjam-jam tanpa perlu khawatir dipotong oleh durasi. Yang demikian ini jelas lebih digemari oleh khalayak umum, ketimbang televisi yang hampir 50% berisi iklan.

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan