Sabtu malam, 28 Februari 2026, langit Lenteng menggantung teduh di atas halaman pendopo iecamatan. Lampu-lampu memancarkan cahaya keemasan, membingkai wajah hadirin yang bukan sekadar untuk menyaksikan pertunjukan, melainkan untuk merayakan perjalanan panjang sebuah ikhtiar kebudayaan.
Malam itu, Sanggar Gemilang—komunitas seni Persatuan Santri Lenteng (Persal), Sumenep— genap berusia dua puluh satu tahun. Usia yang tak lagi belia bagi sebuah komunitas. Ia adalah penanda ketekunan dan malam-malam panjang yang ditempuh dengan keyakinan bahwa seni adalah jalan sunyi yang mesti dijaga.

Sejumlah tokoh hadir memberi makna pada perayaan itu. Camat Lenteng, Supardi, tampak menyapa para tamu. Guru Besar Kesenian Lenteng, Sugat Ibnu Ali, duduk di barisan depan bersama Ketua Dewan Kesenian Sumenep, K Turmudzi Djaka. Hadir pula K Muhammad Affan Adzim, dewan masyayikh Pondok Pesantren Annuqayah Sumenep, Madura.
Tepat pukul 20.30 WIB, acara dibuka dengan pembacaan Surah Al-Fatihah. Doa mengalir khidmat, menjadi fondasi spiritual bagi bunyi dan gerak yang akan lahir setelahnya. Ketua Sanggar Gemilang, Ananda Fathorrozi, kemudian menyampaikan sambutan dengan suara bergetar haru, menegaskan komitmen sanggar untuk terus merawat proses dan kaderisasi.
