Pembawa Kebahagiaan

Sandik bersyukur di masa menginjak dewasa ini ia menemukan banyak kebahagiaan. Ia tak pernah menyesal punya kenangan buruk, telantar beberapa bulan di sebuah pasar. Karena, berkat masa sulit itu, ia bisa menemukan jalan untuk menghargai sebuah kehidupan serta menemukan keluarga-keluarga yang sangat menyayanginya.

*

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Nanti waktu di pasar jangan jauh-jauh dariku,” perintah ini berkali-kali terucap dari mulut Toyo. Sementara Sandik mengangguk setelah mendengar perintah kakaknya itu.

“Kamu ngantuk, San?” Mendengar pertanyaan kakaknya, Sandik hanya menggeleng.

“Kalau kamu ngantuk sebaiknya pulang, tunggu saja di rumah bersama Tari. Kamu ingin apa? Nanti aku bawakan.”

“Aku ingin ikut kakak.”

Walaupun mengantuk, Sandik ingin mengikuti Toyo ke Pasar Sukomoro. Ia ingin membantu kakaknya memungut sayur yang tercecer dari mobil bak. Ia berharap dengan membantu kakaknya, akan mendapatkan uang untuk membeli gulali.

“Kamu duduk di sini dulu, jangan ke mana-mana! Aku mau mencari kresek dulu untuk wadah sayur.”

“Iya,” jawab Sandik.

Karena sangat mengantuk, Sandik merebahkan tubuhnya di lincak yang ia duduki. Tak lama berselang, Toyo datang.

“San… San…”

Toyo mendudukkan Sandik sambil menggoyangkan badannya. Karena Sandik sangat lelap, ia tak mampu membuka matanya.

“Buka matamu, San!”

“Heem…” jawab Sandik tanpa membuka matanya.

“Kamu jangan ke mana-mana. Tunggu aku sampai datang.”

“Heem…”

Terlihat mobil bak pengangkut sayur mulai berdatangan, Toyo bergegas mendatanginya. Ia meninggalkan Sandik yang tertidur di lincak depan warung kopi. Beberapa menit kemudian, pemilik warung datang.

“Woi, bangun! Warung sebentar lagi buka. Kamu cari tempat lain sana!”

Merasa tak digubris, si pemilik warung akhirnya menciprati Sandik dengan dengan air. Semakin tidak digubris, semakin banyak air yang dicipratkan kepada Sandik. Karena semakin basah, akhirnya Sandik terbangun. Dalam terkantuk-kantuk, Sandik memangil kakaknya.

“Kak… Kakak… di mana kamu?”

Berulang kali Sandik memanggil, tetapi Toyo tak juga membalas. Ia mencoba mengelilingi parkiran mobil bak namun tak kunjung bertemu. Sesampainya di ujung parkiran, Sandik melihat ada mobil bak bertenda yang sudah kosong. Rasa kantuk yang semakin hebat memaksa Sandik membaringkan tubuhnya di sebuah mobil bak bertenda di depannya.

Terlihat si sopir mobil bak bertenda berjalan mendekati mobil yang ditiduri Sandik. Sesampai di depan pintu mobil, ia membuka kemudian memasukinya. Si sopir yang tak tahu jika ada Sandik yang tertidur di bak mobilnya, menstarter mobilnya untuk segera pulang. Belum sampai masuk ke rumah, bos si sopir meminta untuk segera mengambil beberapa bal pakaian di Pasar Turi.

*

Saat si sopir hendak menaikkan beberapa bal pakaian ke mobilnya, ia melihat Sandik sedang pulas tidur di bak mobil. Akibat terlalu lelah, ia emosi hingga memukul Sandik yang sedang pulas.

“Bangun! Ini bukan tempat tidur.”

Sandik yang tertidur, terkejut. Ia terbangun kemudian berlari. Dirasa sudah jauh dari si sopir, Sandik mencoba kembali ke lincak dengan berlari ke sana-kemari. Setelah ia kelelahan, ia baru tersadar bahwa ia tidak berada di pasar dekat rumahnya.

“Kak… kakak…. Ibu… ibu… Bu…” Sambil menahan isak tangis Sandik terus berjuang mencari.

Melihat Sandik terus memanggil, beberapa orang yang berniat membantu Sandik, tetapi malah membuatnya ketakukan.

Seharian Sandik berkeliling Pasar Turi. Rasa haus bercampur lapar memaksa Sandik menyerah. Sore itu, ia memutuskan duduk di teras toko. Angin yang bertiup menaburkan aroma sate yang sedang dibakar. Perut Sandi terasa semakin disiksa. Ia hanya bisa menunggu belas kasihan penjual sate memberikan makan gratis atau nasi sisa pembeli. Hari-hari dilalui Sandik dengan meminta belas kasihan para pedagang makanan yang baik hati.

Tinggalkan Balasan