Pembawa Kebahagiaan

Ketika memelihat keluar jendela, Sandik melihat Pasar Sukomoro yang berdekatan dengan cerobong asap menjulang tinggi dan klenteng, membuat ingatannya yang tertidur bangkit. Ia ingat, semasa kecil bersama kakaknya sering memungut sayur di sebuah pasar di dekat klenteng. Ketika hendak menyeberang jalan, pasti terlihat sebuah cerobong asap pabrik gula peninggalan Belanda.

Ingatan masa kecilnya yang selama ini terpendam dalam pikirannya kini bangkit kembali memaksanya untuk kembali mencari keberadaan keluarganya. Sontak ia meminta sopir bus untuk menurunkannya seketika.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Langkah kakinya membimbingnya untuk pergi ke sebuah jalan yang berada di selatan Pasar Sukomoro. Setelah beberapa meter, ia  memasuki gang sempit yang diyakininya untuk jalan menuju rumah keluarganya dulu. Matanya menatap dengan saksama agar bisa mengenali rumah yang ditinggali ibu, kakak, dan adiknya. Semua rumah di gang itu banyak perubahan. Beberapa langkah kemudian ia sampai ke sebuah toko yang diyakininya toko milik Lik Lah. Kemudian ia melihat di depan toko itu terdapat rumah kosong tidak terurus.

“Assalamualaikum,” Sandik mengucap salam kepada pemilik toko.

“Waalaikumsalam,” jawab pemilik toko.

“Permisi saya ingin tanya, Mas Toyo dan Dik Tari yang tinggal di depan situ sekarang ke mana?”

“Toyo? Anda siapa ya?”

“Saya Sandik. Dulu pemilik toko ini Lik Lah ‘kan?”

“Iya benar, saya anaknya. Kamu Sandik yang hilang dulu? Adiknya Mas Toyo?”

“Iya benar.”

“Aku Jalil, temanmu bermain dulu, San.”

Jalil terkejut melihat Sandik yang tiba-tiba pulang untuk menemui keluarganya. Ia tak pernah menyangka teman masa kecilnya yang dianggap sudah hilang yang tak mungkin kembali itu ternyata datang untuk mencari keluarganya.

Jalil menceritakan bahwa Toyo sudah meninggal beberapa hari setelah ia hilang. Siang-malam Toyo mencari Sandik, mungkin karena Toyo kelelahan menyebabkan kakaknya menyeberang jalan tak berhati-hati hinga tertabrak bus.

“Rumah ibumu sekarang pindah. Mari kuantar ke rumah ibumu.”

“Mohon maaf aku merepotimu, Lil.”

Di sepanjang perjalanan Jalil bercerita tentang kondisi keluarga Sandik setelah ia hilang. Setelah sampai di sebuah rumah kecil, Jalil berkata, “Sekarang keluargamu tinggal di sini. Itu adikmu.”  Tangan jalil menunjuk ke gadis yang sedang menjemur pakaian.

Dengan nada haru Sandik mengucap, “Assalamuaikum, Dik.”

“Waalaikumsalam,” jawab Tari. Ia menatap sebuah paras seolah pernah ia kenal.

“Di mana Ibu sekarang?”

Jalil hendak mengatakan kepada Tari bahwa yang datang tersebut Sandik, kakaknya, yang dulu hilang. Tetapi tepukan tangan Sandik ke pundaknya mengisaratkan bahwa Jalil tidak boleh berkata apa pun.

“Ibu ada di dalam.”

“Bolehkah aku menemuinya?” Rasa pernah dekat itu membuat Tari yakin bahwa pria yang bercakap kepadanya adalah Sandik.

“Tentu, mari ikut ke dalam.”

“Siapa, Sar?” tanya Suryati. Belum sempat menjawab, Sandik sudah berada di depannya.

“Saya Ibu. Putra Ibu, Sandik.”

Tangisan bahagia memenuhi rumah itu. Suryati tak menyangka anaknya yang dianggap telah mati kini hidup kembali.

*

Beberapa tahun kemudian, Sandik memutuskan untuk mutasi tempat kerja ke Surabaya. Keputusan itu dibuat agar ia bisa dekat dengan tempat tinggal Ibad dan Alya. Ia juga memboyong ibu serta adiknya untuk hidup bersamanya di Surabaya.

“Aku bangga kepadamu, Nak. Inilah harapanku, menjadikan kamu penebar kebahagian kepada semua orang,” kata Ibad kepada Sandik.

Tinggalkan Balasan