Tiga Ribu prajurit itu terlihat enggan berangkat menuju Mu’tah, Palestina. Bukan karena gentar kepada pasukan Romawi tersebab kekalahan ekspedisi tidak lama sebelumnya. Tetapi, ada semacam ketidaksetujuan diam-diam terhadap kepemimpinan yang dipegang oleh Usamah bin Zaid yang dianggap terlalu muda, ditambah kekhawatiran akan kesehatan Rasulullah yang semakin memburuk.
Hingga saat-saat terakhir kehidupannnya, Rasulullah masih bersikeras untuk memberangkatkan ekspedisi ini dan menampik seluruh keresahan prajurit melalui tanggapannya. “Kalian mengkritik pilihanku terhadap Usamah yang kutunjuk untuk memimpin pasukan, seperti halnya dahulu kalian pernah mengkritik kepemimpinan ayahnya, Zaid. Usamah benar-benar layak memegang komando yang aku amanatkan kepadanya, seperti juga ayahnya sebelumnya.”

Respons Nabi Muhammad tersebut menunjukkan bahwa tidak selayaknya seseorang memandang rendah orang lain hanya karena umurnya yang lebih muda, sebagaimana dulu juga terjadi pada Zaid bin Haritsah yang tidak dianggap kepemimpinannya karena statusnya bekas budak.
Sikap Rasul ini sepenuhnya ingin memberikan penguatan bahwa kejahiliyahan harus ditinggalkan, dan bahwa untuk alasan tertentu, penghormatan harus tetap diberikan kepada seorang pemimpin dengan terus membantunya untuk mewujudkan kemaslahatan bersama, jauh dari prasangka ketidakcakapan yang merendahkan martabatnya.
Tariq Ramadlan menjelaskan lebih lanjut bahwa selama memenuhi kualitas spiritual, intelektual, dan moral yang dibutuhkan, seseorang tidaklah boleh dihalangi untuk memegang otoritas dan kekuasaan, dan bahkan mungkin menjadi pelajaran kerendahan hati bagi generasi tua untuk mundur karena waktu akan mengikis tenaga seseorang.
