Pemuda dan Kepemimpinan Masa Depan

Memang benar bahwa generasi muda dapat dihargai melalui semangat dan kekuatan fisik yang tinggi, sedangkan yang sepuh dihormati karena kebijaksanaannya; itu pula karena jarang ditemukan terkumpulnya dua sifat unggul pada satu generasi saja. Sehingga, dalam urusan pergerakan, pengelolaan sumber daya, atau segala hal yang menuntut keaktifan terorganisasi, pemuda dapat diandalkan. Sebaliknya, untuk urusan pembinaan, serta yang terkait dengan pertimbangan lanjut, sesepuh/senior lebih berhak untuk didudukkan.

Yang demikian itu agar kepemimpinan tidak semata sebagai keandalan dalam membuat keputusan atau sebaliknya menuntut karya nyata, tetapi merupakan kombinasi di antara keduanya. Sesungguhnya, ini adalah persoalan apakah pewarisan informasi (nilai-nilai/values) dapat tersalurkan dengan baik pada generasi berikutnya untuk menjamin kepemimpinan yang lebih baik atau setidaknya baik di masa mendatang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seorang anak yang tidak mengetahui apa pun pencapaian kebaikan kakeknya atau kakek buyutnya tanpa ada media lain yang menjamin hal itu, dapat secara nyata menambah kegamangan anak (generasi muda) untuk menghadapi tantangan di depannya. Pemuda adalah harapan yang tua, namun hanya jika yang tua cukup arif untuk menjamin proses ke arah tersebut. Bisa saja karena keadaan yang memaksa, seseorang maju menjadi pemimpin—tetapi itu adalah kemungkinan yang membuat langkah menjadi tertatih-tatih, terseok-seok. Keseluruhan tersebut adalah pekerjaan rumah yang cukup berat, namun jika tidak pernah disadari terutama dirumuskan aspek pendidikannya, tentu saja hal ini membawa kemungkinan yang buruk di masa depan bagi perjalanan kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Jadi, yang tua pun harapan pemuda, bukankah begitu?

Tinggalkan Balasan