Pemulung itu Ayahku

Meski bagaimana pun dia adalah ayahku. Jika suatu kali engkau melintasi jalan Kalipang, kemudian menemukan seorang lelaki lusuh sedang berjalan mengais-ngais tumpukan sampah, berilah ia makan atau apapun yang dapat mengganjal perutnya dari kelaparan. Itu ayahku. Sekali lagi, dia adalah ayahku. Dia yang tak mau pulang dan tetap ingin mengais sampah di seberang jalan Kalipang.

Pernah suatu kali aku membujuknya untuk pulang, menanyakan alasan dia seputar sikapnya yang menjunjung ejekan pada keluarganya. Di luar nalar, spontan dia mengamuk, seakan-akan sukma lain berada dalam tubuhnya. Ia tidak mengenaliku sebagai putrinya. Ayahku menenteng besi yang biasa ia gunakan untuk mengais sampah, sambil mengacung-ngacungkannya ke arahku. Ia menyuruhku pulang dan melupakan dirinya sebagai ayahku. Entahlah, sesuatu apa yang dijulurkan Tuhan terhadap ayah.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebelumnya, tidak ada yang tau alasan pasti dia menjadi seperti itu. Hanya saja perlu diyakini, barangkali ini bagian dari cara Tuhan merias ayah dengan cinta.

Sebagian orang mungkin akan menghakimi pada kemungkinan-kemungkinan yang dialami oleh ayah, bahkan suatu ketika aku pernah mendengar obrolan sepasang kekasih yang sedang membicarakan ayah, “Kalau ditanya kapan terakhir kali mandi, mungkin jawabannya tahun penjajahan Belanda.” Kemudian mereka melepas tawa secara bersamaan. Semacam primadona yang tak pernah habis digunjingkan, sedang aku dipaksa setabah anak-anak bangsa Palestina yang mengalami deraan kekejaman Israel.

Tidak hanya sekali ketajaman lidah dari seorang teman, tetangga, bahkan dari orang terdekat pun juga ikut mengiris organ dalam bernama hati. Awal-awal aku menerima dengan amarah nada kebencian pada mereka, hingga kebiasaan itu mengubahku pada tabah paling dalam. Maka dari itu bisa kalian sebut aku sebagai pengecut! Atau seorang anak yang gugur dalam mempertaruhkan harga diri keluarga. Tetapi aku tak pernah sekarib dengan kebencian; pada seseorang yang telah menjadi alasan aku dilahirkan, meski alam membentangkan nasib buruk pada keluargaku.

Ini semacam mimpi buruk yang benar-benar terjadi, dan dialami ayahku beberapa tahun yang silam. Dari ingatan yang sebelumnya tidak bisa merekam kenangan, ayah sudah melumat kisah yang tak normal. Jadi aku bertemu dengannya dalam keadaan seperti ini. Keadaan yang mendenguskan nasib kesedihan.

Sebelumnya aku juga tidak mengira kalau dia adalah ayahku. Meski beberapa orang terkadang dengan keusilannya memanggilku “anak pemulung”. Karena setiap kali aku menanyakan pada ibu, maka dengan gesit ibu akan menjawab, “Kau terlahir dari seorang lelaki tak mau bertanggung jawab.” Atau terkadang ibu akan menjawab, “Ayahmu sudah mati.” Begitulah setiap hari, seputar ayah tak pernah lupa kutanyakan pada ibu, hingga aku sampai pada belenggu rintihan tangis kata-kata ibu malam itu.

Waktu itu, aroma hujan masuk menembus dinding dan menyelinap melewati lubang-lubang kecil kamar, berpacu dengan suara tangis yang begitu dekat. Seperti mendengar desis ular, tiba-tiba ketakutan menjalar di jiwa perempuanku. Beberapa kali aku memanggil ibu, berteriak di antara gemuruh guntur dari hujan yang berkepanjangan. Tetapi tetap tidak ada jawaban dari ibu, mungkin suaraku tak mampu membangunkan lelapnya. Pikirku waktu itu.

Aku beranikan diri beranjak dari tempat tidurku. Berjalan tersuntuk, namun cepat didesak kekhawatiran. Gagang pintunya tidak terkunci, isaknya semakin jelas. Ibu rupanya tidak menyadari seseorang telah masuk ke kamarnya.

Tinggalkan Balasan