Pesan ini menunjukkan betapa pentingnya memperbaiki niat sebelum menuntut ilmu, tujuannya agar mendapat ilmu yang bermanfaat dan diridai oleh Allah. Nabi Muhammad pun selalu berdoa:
اللَّهمَّ اِنِّي اَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَعَمَلٍ لَا يُرْفَعُ وَدُعَاءٍ لاَ يُسْمَعُ

Artinya” “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, amal yang tidak diterima, dan doa yang tidak didengar.”
Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya Bidâyah al-Hidâyah, terdapat tiga golongan manusia dalam menuntut ilmu. Pertama, seseorang yang menuntut ilmu dengan niat untuk dijadikan bekal akhirat, dan hanya mengharapkan rida Allah. Ini termasuk golongan orang-orang yang beruntung.
Kedua, seseorang yang menuntut ilmu dengan niat memanfaatkan ilmu tersebut untuk kehidupan yang singkat, sehingga ia bisa memperoleh kemuliaan, kedudukan, dan harta di dunia, padahal ia menyadari dalam hatinya bahwa niatnya mencari ilmu yang seperti itu adalah keliru dan hina.
Maka orang yang seperti ini termasuk golongan orang-orang yang dikhawatirkan nasibnya di akhirat. Orang-orang seperti ini termasuk ke dalam kelompok orang yang hukumnya diperinci, jika ia sempat bertobat sebelum ajal tiba. Kemudian, jika ia kemudian berilmu dan beramal dengan memperbaiki niatnya, maka ia akan masuk golongan orang yang beruntung. Tetapi, jika ajalnya tiba sebelum sempat bertobat, maka nasibnya di akhirat tergantung kepada Allah.
Ketiga, seseorang yang sudah diperdaya oleh setan. Ia pergunakan ilmunya untuk kepentingan dunia, serta membanggakan diri dengan ilmu dan kedudukannya, dan menyombongkan diri dengan jumlah pengikutnya yang banyak.
Pencari ilmu seperti ini, ilmunya dijadikan modal untuk meraih tujuan duniawi. Berbeda dengan golongan yang kedua, orang pada golongan ini mengira bahwa dirinya mulia di sisi Allah. Dan tidak sedikit pun merasa salah dengan niat dan apa yang telah diperbuatnya. Karena ciri-cirinya dan kepandaian berbicaranya yang seperti ulama, padahal ia begitu tamak kepada dunia, maka orang-orang seperti ini termasuk golongan orang yang celaka, orang yang rusak. Tobat pun sudah tidak diharapkannya karena ia menyangka termasuk orang-orang yang baik, padahal ia termasuk orang-orang yang rugi.
