Ini termasuk orang-orang seperti yang dikhawatirkan oleh Rasulullah berkata:
اَنَا مِنْ غَيْرِ الدَّجَّالِ اَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنَ الدَّجَّالِ فَقِيْلَ وَمَا هُوَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ فَقَالَ عُلَمَاءُ السُّوْءِ

Artinya: “Ada yang paling aku takutkan dari kalian dibandingkan Dajjal. Lalu para Sahabat bertanya, ‘apa itu wahai Rasulullah SAW?’ ‘Ulama Sû`, jawab Nabi.”
Kenapa mereka ditakutkan tinimbang Dajjal? Sebab, Dajjal sudah jelas memang bertujuan untuk menyesatkan manusia. Sementara, orang alim yang seperti ini meskipun lisan dan perkataannya memalingkan manusia dari dunia, tapi tidak tercermin pada amal perbuatannya sendiri.
Padahal, perilaku lebih fasih dibanding ucapan atau perkataan. Sebab, watak manusia itu meniru pada perilaku. Maka, manusia lebih terpengaruh dengan apa yang dilihat dari perilaku dan tindakan daripada apa yang diucapkan. Kerusakan yang ditimbulkan oleh tindakan jauh lebih besar daripada perbaikan yang disebabkan oleh ucapan. Itu artinya pengaruh perilaku lebih kuat ketimbang pengaruh ucapan.
Karena itu, Imam al-Ghazali berpesan kepada para pencari ilmu, “Jadilah kalian golongan yang pertama, hati-hatilah jangan sampai kalian masuk pada golongan yang kedua. Karena banyak orang yang selalu menunda-nunda tobatnya untuk memperbaiki niatnya dalam mencari ilmu hingga ajal menjemputnya, maka rugilah kalian. Awas-awas, jangan pernah kalian masuk dalam golongan ketiga, sebab jika engkau masuk pada golongan ini, maka tidak ada sesuatu yang bisa diharapkan dan ditunggu kebaikannya.”
Itulah mengapa Rasulullah menjadi uswatun hasanah karena akhlaknya dalam konsep dan perilakunya. Seimbang atas apa yang diucapkannya dengan yang diperbuat. Rasul melakukan apa yang didakwahkan, bahkan seringkali terlebih dahulu mencontohkan melakukan sesuatu sebelum menyampaikannya.
Wallahu a’lam.
