“Di kolam belakang ada ikan mujair, sulit sekali aku tangkap. Padahal semua ikan sudah aku tangkap. Tapi ada beberapa yang pandai menghindar waktu kutangkap. Siapa tahu kamu bisa menangkapnya dengan senapanmu. Kalau kamu berhasil maka bawalah pulang.”
Heri pun langsung ke belakang rumah Pak Jumantoro, dilihatlah sebuah kolam ikan yang berair agak keruh, namun tetap terlihat ikannya walaupun remang-remang. Diacungkanlah senapannya ke kepala ikan. Lalu ditembaklah. Tembakan pertama, kedua, dan ketiga meleset karena ada pembiasan antara udara dan air. Akhirnya, dihitunglah tingkat melesetnya. Barulah berhasil dia menguras sisa-sisa ikan di kolam Pak Jumantoro.

“Kamu berbakat menembak, kenapa tidak coba kamu mendaftar jadi anggota polisi atau tentara.”
“Saya tidak pernah memikirkannya. Karena saya anggap ini menjadi hobi.”
“Kamu bisa lari cepat, berenang, dan pandai dalam pelajaran?”
“Lari lumayan cepat, berenang bisa Pak, dan dalam pelajaran saya paling hanya mendapat peringkat delapan besar.”
“Yah coba saja, tahun depan kalau tidak salah di bulan Maret−Mei diumumkan ada pendaftara, mungkin kamu sudah selesai UAN ‘kan? Salurkankanlah hobimu agar bisa bermanfaat bagi negaramu.”
“Ya Pak, saya mengucapkan terima kasih atas sarannya.”
***
Setelah lulus SMA, Heri mengikuti tes seleksi penerimaan bintara kepolisian. Dalam tes tersebut diikuti oleh seribu lebih peserta. Heri yang sudah menyiapkan fisik, mental, dan intelektualnya. Ia selalu berlari setiap usai salat subuh. Berenang setiap tiga hari sekali walau kadang di kali. Membeli buku-buku psikotes dan selalu membacanya. Tak lupa juga serius belajar mata pelajaran sekolahnya. Karena itu dia tak gentar untuk menghadapi tes masuk bintara polisi.
Tes pertama adalah tes fisik dan kesehatan. Dalam tes tersebut lolos, karena tidak ada cacat dalam tubuhnya. Semua organ tubuhnhya pun dalam kondisi fit semua. Dalam hal berlari, walau pun Heri bukan yang tercepat tetapi waktu tempuhnya sudah di atas waktu standar ketentuan kelulusan. Berenang pun juga demikian lolos seleksi.
Dalam tes psikologi dan pengetahuan, Heri berhasil hampir bisa mengerjakan seluruh soal-soal. Hanya sedikit soal yang tidak bisa dikerjakan. Papan pengumuman pun bericara bahwa Heri lulus semua tes. Ia berhak menjadi anggota bintara kepolisian.
***
Kali ini misi pertama Heri adalah mengamankan sandera dari dua orang perampok bank yang diduga menjadi anggota teroris. Heri dibimbing oleh Aipda Alex, anggota senior Tim 2 Detasemen Antiteror, berada di sebuah gedung hotel di seberang Jalan HOS Cokroaminito. Sementara di depan hotel tersebut ada gedung bank BUMN. Perampok itu sedang beraksi di sebuah bank BUMN tersebut. Perampok itu adalah anggota teroris yang diduga telah melakukan pengeboman di sebuah kafe di kawasan Jalan Budi Utomo beberapa bulan sebelumnya.
Dengan teropongnya Aipda Alex mengamati para perampok dalam bank itu. Memindai di mana saja posisi-posisi para sandera dan para perampok. Di hotel ini, di ruang lain, Inspektur Lukman juga mengamati situasi dalam bank yang dirampok itu.
“Bagaimana sudah Aipda Alex temukan ketujuh target operasi kita?”
“Siap! Saya hanya menemukan dua orang yang menjaga sandera di lobi bank.”
“Oke, 86! Kalian bersihkan kedua target itu. Yang lain nanti biar ditangani oleh Tim 1 DPT yang berada di bawah.”
“Siap, 86!”
Aipda Alex langsung memerintahnya Bripda Heri untuk membidik seorang pria yang membawa senjata FN yang sedang mondar-mandir di antara para sandera. Aipda Alek membidik seorang pria yang ada di hadapan para sandera.
“Bidik kepalanya, jangan sampai meleset. Kita harus melumpuhkan kedua orang penyandera itu. Eksekusi saat hitungan sampai tiga.”
