“Siap Pak!”
“Jangan sampai meleset Bripda Heri. Kalau meleset nanti akan ada korban di pihak sandera. Satu lagi, hindari risiko tembakan kita terkena sandera.”

“Siap Pak!”
“Sebelum dimulai ada yang ditanyakan Bripda Heri?”
“Siap, tidak, Pak!”
Dikokanglah senapan runduk AWM. Dibidiknya lelaki berpeci hitam yang menodongkan pistol FN-nya kepada para sandera. Dirasanya Heri perlu berpindah tempat, lelaki berpeci itu bergerak ke samping kiri, karena ada papan nama bank yang terkadang menghalangi senapan AWM-nya.
“Lapor Pak, saya izin pindah posisi. Papan nama bank yang berada di sebalah kiri pintu masuk menghalangi pandangan saya.”
“Ya, pindahlah segera, laporkan jika target sudah ada dalam jangkauan tembak.”
“Siap Pak.”
Diangkatlah senapan runduknya. Lalu Heri pindah di jendela sebelah kiri Aiptu Alex. Dari situ dapatlah dilihat targetnya. Orang lelaki berbaju dan berpeci hitam. Dibidiknya lelaki berbaju dan berpeci hitam itu tepat di kepalanya. Lalu Heri mengontak orang-orang Aiptu Alex.
“Target dalam jangkauan Pak.”
“Amati kekuatan angin. Apa angin terlalu kencang”
“Siap Pak. Angin tenang Pak. Pohon hanya bergerak sedikit.”
“Dalam hitungan tiga, siap menembak Bripda Heri?”
“Siap Pak.”
“Satu… dua… tiga…”
Suara desingan senapan yang diredam pun berbunyi. Peluru panas itu melesat dari gedung hotel, melewati atas kepala-kepala para pasukan elite polisi negara, Detasemen Anti Teror. Sampailah pada sebuah pintu kaca bank, tempat ketujuh penjahat itu melancarkan aksinya. Kaca-kaca bank itu pecah tertembus peluru tajam yang sedang mencari mangsa. Mangsa pun ditemukan, ditembuslah kepala penjahat yang berpeci hitam itu. Bergeletak dengan darah mengucur dari kepalanya.
Begitu pula perampok satunya, yang membawa senapan serbu AK. Limbung seketika ketika peluru yang dimuntahkan dari senapan Aipda Alex menembus kepalanya kemudian bersarang di pundaknya. Tak lama setelah para penyandera tewas, Aipda Alex melaporkan kesuksesannya. Tim DPT 1 langsung masuk. Baku tembak pun terjadi, dan kelima penjahat itu berhasil dilumpuhkan hanya dalam hitungan menit.
***
Semua orang tertegun mendengarnya. Seolah tak sempat mengedipkan mata bahkan untuk batuk atau bersin. Mereka seperti melihat adegan-adegan film aksi di sebuah bioskop.
“Kapan-kapan dilanjutkan lagi Pak ceritanya,” pinta seorang anak kecil.
