Sementara, jika pokok kehidupannya adalah dunia, maka ia akan mendapatkan keburukan yang jumlahnya tidak terkira. Oleh karena itu, maka sewajarnya sebagai hamba Allah yang berharap kebaikan, takwa harus menjadi dasar kehidupan, baik hablum minallah maupun hablum minannas.
Kemudian pada risalah selanjutnya (9), Kiai Fikri menjelaskan terkait dengan maksiat. Dalam kitab tersebut, Sufyan As-Tsauri (guru dari Imam Malik) mengatakan, “Tiap-tiap maksiat yang datang dari syahwat masih dapat diharapkan ampunan (dari Allah). Sedangkan, maksiat yang datang dari sikap sombong tidak dapat diharapkan ampunannya (dari Allah). Hal ini dijelaskan terkait dengan Nabi Adam yang diusir dari surga karena nafsu memakan buah terlarang (buah khaldi). Nabi Adam diusir dari surga dan setelah bertobat selama 200 tahun, baru kemudian Allah menerima tobatnya. Sedangkan, iblis yang enggan bersujud kepada Adam atas perintah Allah, disanksi menjadi penghuni neraka untuk selama-lamanya. Iblis melakukan maksiat kepada Allah karena sifat dan sikap sombongnya.”

Beriktunya dari kitab yang ditulis oleh Syihabuddin Ahmad bin Hajar Al-Asqalani ini menjelaskan tentang perkataan seorang zuhud (orang yang tidak mementingkan dunia). Pada risalah yang ke-10 ini, seorang zuhud berkata, “Orang yang melakukan dosa kemudian ia tertawa (merasa senang atas dosa itu) maka Allah akan memasukkannya ke dalam neraka, sedangkan ia dalam keadaan menangis. Dan barang siapa yang taat (hingga bercucuran air mata karena merasa ketaatannya masih kurang), maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga sedangkan ia dalam keadaan tertawa (karena merasa bahagia).”
Kiai Fikri yang merupakan salah satu pengasuh Pesantren Annuqayah ini menjelaskan lebih lanjut, bahwa seorang ahli hikmah mengatakan, “Janganlah kalian meremehkan dosa kecil, karena dosa kecil itu akan terus tumbuh dan bercabang-cabang hingga kemudian menjadi besar.” Terkait dengan ini, Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada dosa kecil jika selalu diulang-ulang, dan tidak ada dosa besar jika disertai dengan tobat.”
