Acara-acara keagamaan tidak pernah sepi dari jamaah. Dai kondang, ulama terkenal, ustaz masyhur, dan bahkan habaib tidak pernah absen untuk mengisi kegiatan tersebut. Masyarakat secara turun temurun menjaga tradisi keislaman tersebut, dengan tidak mengurangi rasa toleransi.
Selama empat tahun saya menjadi santri kalong di salah satu pesantren di desa saya. Pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadiin (PPHM). PPHM didirikan oleh Al-Maghfurlah Romo KH Imam Ma’sum. Dan sekarang diasuh oleh Romo Kiai Imam Mas’ud, salah seorang putra pendiri.

Saya masuk di pesantren tersebut sejak SMA atau tahun 2015. Saya cukup beruntung karena sebagai santri baru saya bisa memulai tahun pertama dari kelas 2 Tsanawiyah. Hal itu dikarenakan saya adalah lulusan TPA salah satu lingkungan yayasan yang sama.
Mungkin ada pertanyaan, kenapa tidak mondok saja, biar merasakan kultur pesantren yang lebih autentik? Alasan yang pertama karena adalah saya sekolah di tempat yang cukup jauh dan harus memakai kendaraan bermotor. Sedangkan, di pondok para santri dilarang membawa kendaraan bermotor kecuali pengurus.
Kedua, karena jarak pesantren dan rumah saya hanya 250 meter. Keluarga saya adalah tetangga dekat Pak Kiai, dan orang tua saya sering sekali dimintai tolong ketika di pesantren sedang ada hajat. Dan jarak yang dekat itulah yang membuat saya khawatir untuk sering pulang ke rumah.
