Selama ngalong, ada banyak cerita suka dan duka yang saya alami. Di luar pengalaman spiritual yang saya rasakan, ada pula pengalaman-pengalaman lain yang saya dapatkan. Salah satu cerita suka yang pernah saya rasakan, yaitu ketika mendapatkan juara 3 Musabaqoh Qiroatul Kutub tingkat kabupaten pada cabang Nahwu Ula. Selain itu, di pesantren adalah kali pertama saya belajar menjadi MC. Saya juga bertemu dengan teman-teman yang ramah meskipun kurang akrab tetapi meninggalkan kesan yang dalam.
Di samping pengalaman suka cita, saya juga pernah mengalami penuh duka atau pengalaman buruk. Contohnya ketika harus berdiri selama pelajaran berlangsung karena hari sebelumnya tidak masuk. Atau harus ikut membersihkan comberan karena absen lebih dari tiga kali dalam sebulan. Dan yang paling parah adalah tidak bisa ikut ujian akhir karena beberapa kitab saya rumpang dari makna.

Di pertengahan tahun 2019 saya mendaftar UMPTKIN, setelah pada tahun sebelumnya gagal mendapatkan beasiswa di salah satu PTN. Saya salah seorang yang percaya barokah guru atau kiai. Ketika 2018 saya mendaftar beasiswa saya tidak meminta izin dan memohon doa restu dari Pak Kiai. Dan saya rasa karena itulah Allah tidak meridai saya untuk melanjutkan pendidikan. Dan benar saja, ketika setahun setelahnya saya sowan dan menceritakan itu, saya dinasihati agar hal yang semacam itu jangan diulangi. Beliau berpesan agar selalu menjadikan ngaji di atas kepentingan dunia lain. Jangan dijadikan pilihan kedua atau kesekian.
Memutuskan meninggalkan pesantren untuk melanjutkan pendidikan tinggi adalah hal yang berat. Akan tetapi, keputusan saya sudah bulat. Meskipun harus pergi tanpa menyandang gelar wisudawan. Tersisa satu tahun terakhir belajar dan satu tahun mengabdi dan saya memilih untuk pergi. Keputusan yang sulit namun semoga Pak Kiai dan Allah merestui. Dan Alhamdulillah ketika sowan beliau memberikan izin dan berpesan untuk senantiasa menyebarkan ilmu yang sudah didapat di pesantren agar tidak mengendap dan hilang sia-sia.
Secara garis besar, menjadi santri kalong mengajarkan saya bagaimana membagi waktu antara sekolah, mengaji dan kegiatan lain di luar keduanya. Menjadi santri kalong bukanlah pilihan terbaik, karena akan sangat bijak jika santri belajar dan tinggal di pondok pesantren. Demi mendapatkan pengalaman santri yang autentik, spiritual yang mendalam, dan barokah ilmu yang sempurna.
