Penjual Mimpi

Mayoritas warga Sukodarmo sebenarnya mulai tidak percaya dengan kedua calon kades mereka. Mereka trauma terhadap kades-kades mereka dahulu. Sudah tiga periode ini kades-kades di Sukodarmo tersandung masalah.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dua periode yang lalu, ada seorang calon kades yang janjinya sangat realistis yang mampu meninabobokan warganya. Calon kades itu berjanji ingin memakmurkan warga petani dengan cara membangun KUD yang akan mengantisipasi petani menjual gabah kepada tengkulak-tengkulak nakal −karena warga Sokodarmo lugu-lugu, mereka pun percaya− tetapi pada akhir jabatannya malah membawa lari uang KUD.

Setelah beberapa lamanya, pilkades pun diadakan lagi untuk mengisi jabatan kades yang kosong karena kadesnya menjadi buron mengorupsi uang KUD. Warga Sukodarmo pun tak mau lagi tertipu janji manis. Mereka memilih kades yang memberikan amplop yang paling banyak. Maksud warga Sukodarmo adalah ingin merasakan hasil secara instan. Tetapi yang terjadi malah remuk redam di belakangnya. Semua adminitrasi yang berurusan dengan tanda tangan kades dimintai amplop. Semua proyek-proyek desa yang ingin menang tender harus memberikan imbal hasil bagi kades. Sehingga hasil pembangunannya cepat rusak, karena adanya sunatan massal tehadap dana-dana pembangunan, seperti jalan jeglongan sewu yang melintasi Desa Sukodarmo.

***

Sekarang mereka digalaukan oleh pilkades lagi. Ada dua calon kades yang sangat membingunkan warga Sukodarmo. Nomor satu, Pak Jony, menjual mimpi yang –sepertinya– realistis bagi mereka. Impian –sepertinya– realistis tersebut yaitu ingin membangun jalan desa yang rusak, membangun ekonomi warga desa dengan cara menghidupkan lagi KUD, dan membuat kerja sama dengan perusahaan-perusahan besar yang mau menerima hasil panen petani dengan harga di atas pasar. Calon nomor dua, Pak Anton, tidak jelas visi dan misinya, namun memberikan amplop per kepala Rp 250 ribu jika para warganya datang ke TPS. Bahkan akan menambah jika mereka telah pulang dari TPS.

Warga Sukodarmo galau ingin memilih amplop cinta atau impian. Memang kegalauan warga ini sangat luar biasa. Aroma kegalauan ini menyebar di desa. Terbawa angin sampai ke beberapa kecamatan sebelah. Bahkan kadang angin membawanya jauh ke atas dan jatuh entah ke mana.

Ternyata aroma itu beberapa jatuh sehingga sampai tercium oleh orang-orang yang suka botoan (bertaruh) dalam ajang pilkades. Kegalauan warga Sokodarmo ini membuat pertaruhan semakin seru karena pemenang pilkades semakin sulit terprediksi. Petaruh-petaruh itu datang dari berbagai kecamatan. Mereka berencana akan datang untuk ikut memeriahkan pilkades di Sukodarmo ini. Taruhan mereka mulai dari sepuluh ribu sampai puluhan juta.

***

Sabtu malam ini ada pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Malaysia. Pertandingan ini sangat seru, karena mereka pernah bertemu di Final Piala AFF beberapa tahun lalu. Di warung kopi ini, biasanya warga Sukodarmo semangat melihat sepak bola, apalagi kalau Indonesia bermain. Tapi ini malam bukan malam biasa, karena beberapa hari lagi coblosan dimulai. Mereka yang biasanya nonton bola di warung sekarang pindah ke rumah calon kades. Sudah sejak diumumkan calon kades, para pendukungnya mulai melekan (begadang). Tujuan tim suksesnya bekadang adalah untuk menjaga calon kades mereka dari gangguan lawan, baik gangguan tampak maupun tak tampak.

Tim sukses calon nomor dua, Pak Anton, mulai bergerilnya menuju rumah-rumah lawan mereka untuk mengadakan operasi senyap. Ya, operasi senyap, yaitu untuk menyenyapkan suara-suara lawan mereka. Sambil memberikan amplop tanda cintanya kepada orang Sukodarmo. Selain itu, mereka menyampaikan kampanye hitam dengan menyatakan bahwa Pak Jony hanya omong kosong, bukahkah Pak Jony hanya orang miskin yang tak pernah bergaul dengan pengusaha. Jadi, tak mungkin bisa mendatangkan pengusaha-pengusaha untuk membeli gabah para petani Sukodarmo. Itulah bunyi kampanye hitam tim sukses nomor dua. Ada orang yang percaya, yang cuma senyam-senyum, atau tidak percaya terhadap tim sukses Pak Anton.

Lain halnya dengan tim sukses calon nomor satu, mereka hanya mampu bergerilnya dengan sebuah brosur yang dibagikan kepada pemilik suara yang masih bimbang. Brosur itu berisikan impian-impian Pak Jony jikalau terpilih menjadi kades. Impian itu di antaranya menghidupkan KUD Sukodarmo dengan uang kas desa, sehingga warga desa tidak lagi ditodong harga murah oleh tengkulak-tengkulak licik, menyediakan dana pinjaman lunak bagi petani yang membutuhkan uang dengan jaminan hasil panen mereka, dan menjalin kerja sama dengan agen beras, pengusaha-pengusaha tepung beras, dan pengusaha kue di kota-kota terdekat. Sama juga ada orang yang percaya, yang cuma senyam-senyum, atau tidak percaya.

Tinggalkan Balasan