Saya tidak akan mengucap sebuah hadits tentang pentingnya menyambung tali silaturahmi. Para pembaca yang budiman pasti lebih expert dalam hal ini. Atau, paling tidak bisa membuka “Mbah Gugel” dan mencarinya sendiri.
Namun, harus diakui bahwa kesibukan dan tekanan kepentingan telah lama menjauhkan kita dari logika pentingya menyapa, bertegur sapa. Padahal, tanpa kita sadari, kalimat dan atau tindakan kecil semacam itu bisa menimbulkan efek besar. Menjadikan manusia merasa dimanusiakan, misalanya. Bukankah hal kecil namun paling tidak disukai oleh manusia adalah diabaikan. Rasa terasing yang dipupuk oleh ketidakpedulian oleh orang-orang sekitar, dapat menjadikan manusia lupa pada kodratnya semula. Yakni, menjadi manusia, bukan tanpa salah layaknya Jibril. Atau penuh dengan kutukan layaknya Azazil.

Hal itu juga yang kerap dijadikan anekdot bahwa manusia diciptakan bergerombol karena suatu sebab. Bahwa, terciptanya kehidupan karena ada kesinambungan satu manusia dengan yang lain. Dan bahwa, terciptanya sebuah kematian tidak lain untuk mengingatkan kita. Saat ajal menyapa, kita tak bisa berjalan kekuburan, menggali tanah, dan menguburkan diri kita sendiri. Kepedulian orang lain mutlak dibutuhkan saat itu juga. Entah untuk keluarga yang ditinggal, atau untuk sang mayit itu sendiri.
