Pentingnya Ilmu Nahu

Sebenarnya, gagasan bahwa nahu penting muncul sejak zaman khalifah. Namun, istilah nahwmu sebagai disiplin ilmu masih belum ada.

Semua bermula dari seseorang bernama Abul Aswad yang sedang bersama putrinya pada suatu malam. Malam yang indah. Bintang gemintang gemerlapan di atas sana. Tak sehelai pun awan menghalangi pandangan kedua ayah dan anak ini.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebenarnya, tempat mereka, jazirah Arab, tempat yang terkenal kering—artinya jarang sekali awan melewati langitnya.  Pemandangan malam seperti ini adalah hal lumrah. Namun entah kenapa malam itu langit seperti lebih bersolek, membuat dua insan di bawahnya tercenung kagum.

Di kala mereka menikmati indahnya malam, si putri berkata pada si ayah menggunakan bahasa Arab.  “يا ابت، ما احسنُ السماءِ”, kata si putri. Apa yang dimaksud oleh si putri? Dia ingin menyatakan kekaguman, “Wahai ayahku, langit begitu indah,” kira-kira begini dalam bahasa Indonesia.

Seharusnya ungkapan itu juga yang dipahami oleh si ayah. Namun sang ayah salah paham. Dia mengira putrinya bermaksud bertanya, “Wahai ayahku, apanya yang paling indah dari langit?”

Sang ayah pun bilang, “Wahai putriku, tentu saja bintangnya” sebagai jawaban. Maka si putri menjelaskan bahwa ia bermaksud menyatakan kekagumannya, bukan bertanya, jadi tak perlu dijawab.

Lalu si ayah bilang bahwa pengucapan si putrilah yang salah. Kalau ingin menyatakan kekaguman, bukan begitu caranya, katanya. Katakanlah begini “يا ابت، ما احسنَ السماءَ”, fathahkan mulutmu, Nak. Jadi si putri ini salah ucap. Atau lebih tepatnya memang tidak tahu cara bicara bahasa Arab.

Memang, bahasa Arab sangat kompleks, kaya makna, agak rumit, dan kerap membuat rancu jika tidak teliti. Hanya salah harakat saja bisa membingungkan lawan bicara, apalagi salah huruf. Mungkin dalam perbincangan biasa bisa dimaklumi, tapi bayangkan kalau kesalahan itu terjadi dalam memahami Al-Qur’an, bisa sangat fatal akibatnya.

Kira-kira begitu isi pikiran Abul Aswad setelah mengalami kejadian tersebut. Setelah peristiwa itu, dia pun menemui Amirulmukminin Sayyidina Ali, menceritakan apa yang dialaminya dan bagaimana keresahannya.

“Ini diakibatkan kontaminasi bahasa lain,” simpul Sayyidina Ali. Tapi  bukan itu yang penting, yang terjadi biarlah terjadi. Yang penting sekarang adalah bagaimana mengantisipasi kesalahan yang sama terjadi di masa depan?

Tinggalkan Balasan