ELEGI LADANG KEHIDUPAN
Berkat petani,
hiduplah para tirani!

Di ladang yang makin sempit
(seperti pembaca hari ini)
kita pernah berencana
hidup dengan sederhana.
Misalkan, menanam biji cinta
menabur pupuk ketabahan
agar tumbuh subur kehidupan.
Di ladang yang bapak wariskan,
(dan hari ini mulai ditinggalkan)
hujan dan cangkul bersahutan,
barangkali saling merindukan.
Dari pagi hingga senja kita bekerja,
melepas baju kemalasan
(dan meneduhkan segala keangkuhan)
di bawah pohon mimba.
Oh ladang yang memberkati kehidupan,
oh keberkatan yang dilupakan;
inilah gerakan kita,
dalam menumbuhkan masa depan
(dan meruntuhkan tembok tiran)
yang kerap menyulap jadi isu agraria.
Yogyakarta, 2025.
CINTA PEREMPUAN LAMPADANG
— Cut Nyak Dhien
