Di tengah realitas sosial yang kerap menampilkan ilmu sebagai komoditas popularitas dan penguat ego, pengajian Al-Hikam hadir sebagai penyeimbang. Ia mengingatkan bahwa hakikat ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan membimbing sikap, menata niat, dan menjaga adab dalam kehidupan bermasyarakat.
Pengajian berakhir sekitar pukul 10.00 WIB. Meski tidak berlangsung lama, suasana majelis meninggalkan kesan mendalam. Bagi para alumni yang kini menapaki berbagai medan pengabdian, Kemis Legi bukan sekadar ruang silaturahmi, tetapi juga tempat menyelaraskan kembali niat dan tanggung jawab keilmuan di tengah kompleksitas zaman.

Tradisi Ngaji Kemis Legi Kitab Al-Hikam telah berlangsung sejak 2002, berangkat dari kerinduan para alumni akan bimbingan ruhani khas pesantren. Kitab ini mula-mula dibacakan oleh almarhum Romo KH Idris Marzuqi, lalu diteruskan oleh Romo KH Muhammad Anwar Manshur hingga hari ini. Estafet tersebut menjadi penanda bahwa Lirboyo tidak hanya menjaga tradisi literasi kitab, tetapi juga merawat ruh ilmu yang diwariskan.
Penutupan periode ini kembali menegaskan satu prinsip penting: di balik keluasan dan kedalaman ilmu, harus selalu hadir khasyah yang membimbing, bukan rasa aman yang justru melalaikan.
