Kedua, bisosiasi. Teori ini menyatakan bahwa kita tertawa apabila secara tiba-tiba menyadari ketidaksesuaian antara konsep dengan realitas yang sebenarnya. Menurut teori ini, humor muncul karena kita menemukan hal-hal di luar dugaan.
Ketiga, teori inhibisi. Ini teori paling teoritis yang bersumber dari Sigmund Freud. Kita sering menekan pengalaman-pengalaman yang tidak enak atau keinginan-keinginan yang tidak bisa kita wujudkan dalam ke alam bawah sadar. Saah satu dorongan yang kita tekan itu adalah dorongan agresif. Dorongan agresif masuk ke alam bawah sadar kita dan bergabung dengan kesenangan bermain di masa kanak-kanak. Bila kita lepaskan dorongan ini dengan sesuatu yang bisa diterima masyarakat, kita melepaskan inhibisi. Kita merasa senang karena lepas dari sesuatu yang menghimpit kita. Kita melepaskan diri dari ketegangan. Kita senang. Karena itu kita tertawa.

Hampir semua golongan masyarakat memiliki model humor tersendiri. Di kalangan pesantren juga akrab dengan humor. Jika kita membaca buku karya Akhmad Fikri AF yang berjudul Tawa Show di Pesantren, kita diantarkan pada ketiga teori yang telah diulas oleh Jalaluddin Rakhmat tersebut. Buku Fikri mengurai sisi-sisi tersembunyi humor yang menjadi kekayaan antropologis dunia pesantren. Relasi kiai dan santri ternyata tidak selalu berlangsung secara formal dan penuh ketakziman. Tidak jarang muncul sesuatu yang mengejutkan serta spontanitas– dan lucu.
Mengulik dimensi humor kiai, akan mengantarkan kita pada persepsi yang selama ini tidak terduga. Misalnya, kiai selama ini berada di posisi sebagai figur yang selalu dihormati, serius, sarat norma, dan berbagai aspek kesempurnaan lainnya. Akan tetapi, masyarakat lupa bahwa kiai juga manusia sebagaimana lainnya. Status kiai tidak akan menghilangkan keunikannya sebagai manusia. Kiai juga memiliki banyak hal manusiawi yang sering tidak terendus oleh orang lain.
Dalam bab berjudul Kiai Bisri dan Strategi Kiai Wahab, Akhmad Fikri AF mengisahkan seorang warga yang berkonsultasi soal ibadah kurban kepada Kiai Bisri Syansuri. Orang tersebut ingin berkurban sapi, tetapi karena anggota keluarganya delapan, orang tersebut ingin di akhirat nanti satu keluarga bisa satu kendaraan agar tidak berpencar.
