Perempuan dan Benteng Intoleransi

Hidup di tengah-tengah masyarakat inilah yang akan menampakkan beragam keragaman “perbedaan” yang ada dalam lingkungan masyarakat itu sendiri. Mulai dari perbedaan keyakinan, suku, ras, budaya, hingga finansial pun pasti terdapat perbedaan. Segala perbedaan itulah yang akan mulai membentuk sifat seseorang, apakah ia termasuk yang toleran atau malah intoleran atas semua perbedaan yang ada tersebut.

Toleran dalam perspektif penulis bukan hanya sebatas menghormati perbedaan dalam SARA belaka. Lebih daripada itu, setiap manusia harus pula menghormati dari segi finansial juga. Mengapa harus sampai sejauh itu. Anda tahu flexing? Betapa banyak yang dalam masa sulit seperti pandemi ini banyak orang yang tak toleran flexing harta.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Maka wajar bila penulis menganggap bahwasanya selain dalam isu suku, agama, rasa, dan budaya, adalah penting juga mengedepankan sikap toleran dalam aspek finansial. Maka, toleran ini harus disamaratakan untuk menjadikan kehidupan yang lebih humanis dan indah dalam keberagaman tanpa menciptakan krisis sosial.

Perempuan Benteng Intoleransi

Ngalor-ngidul berbicara tentang sikap toleransi, membuat penulis berpikir mungkin saatnya perempuan memiliki andil besar dalam melestarikan sifat toleransi ini.

Toleransi kini dalam bahasa milennial ini lebih dikenal dengan istilah moderasi beragama sebagai  pengejawantahan dari islam washatiyah itu sendiri. Moderasi beragama adalah sikap dan pandangan yang tidak berlebihan, tidak ekstrem, dan tidak pula radikal. Dalam agama manapun, termasuk Islam, sikap moderasi diperlukan untuk menjalin kerukunan antarumat beragama.

Bersumber dari buku yang berjudul Moderasi Beragama yang diterbitkan Kementerian Agama, ragam kepercayaan di Indonesia dapat menjadi ancaman terbesar yang bisa memecah belah bangsa. Hal ini disebabkan oleh egoisme disertai dengan sikap intoleran dan merasa mau benar sendiri menjadi hal yang paling sulit untuk diselesaikan hingga kini.

Tinggalkan Balasan