Bukti konkret dari hal ini adalah dengan munculnya kasus ekstremisme yang tidak mengedepankan nilai toleransi yang kini kian marak terjadi dan parahnya lagi terekspos oleh media. Banyak media yang telah memberitakan hal demikan. Sepertai kasus di SMKN Padang, di mana Waka Kesiswaan mewajibkan semua siswanya untuk memakai hijab, termasuk pula siswa non-muslim (Tribun Jateng, 2021)
Menyedihkan memang sikap intoleransi yang sebenarnya menjadikan orang lain juga akan menjadi ekstremis hingga radikalis dalam menyikapi beragam aspek, seperti suku, agama, ras, dan budaya yang memang dari asalnya telah berbeda. Maka, peran seluruh lapisan masyrakat, terkhusus wanita sangatlah diperlukan untuk membentuk dan mengembangkan sikap toleransi ini.

Mengapa demikian, karena perempuan lebih memiliki kepekaan luar biasa dalam mendidik buah hati, murid, hingga segenap orang di sekitarnya. Perempuan juga diunggulkan dengan memiliki bahasa ibu yang dapat lebih dekat berbicara dari hati ke hati untuk membentuk jiwa yang toleran atau moderat.
Perempuan Menjawab Tantangan
Jika perempuan diberikan ruang lebih dan mau untuk melestarikan nilai toleransi atau moderat ini ke banyak manusia, maka niscaya keseteraan gender juga akan tercipta. Ketiadaan toleransi hanya akan melanggengkan praktik diskriminasi dan justru menambah tantangan dalam mencapai kesetaraan bagi wanita.
Indeks Pemberdayaan Gender (IDG) Indonesia pada tahun 2019 berada pada angka 75,24. Indeks ini mengukur peran aktif perempuan terutama dalam bidang politik, pengambilan keputusan, serta ekonomi. Perolehan angka IDG maupun berbagai indeks lainnya yang belum maksimal merefleksikan bahwa masih ada ketimpangan gender di Indonesia (kemenpppa.go.id, 2021).
Seyogyanya peran perempuan dalam mengatasi beragam masalah yang mengancam keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara ini, seperti radikalisme, ekstremisme, liberalism, hingga sikap intoleransi lainnya patut diperhitungkan.
