Kabut menyelimuti pagi ini. Matahari seolah tak mau bangun dari peraduannya. Aminah, perempuan dengan kerut-kerut kulit di wajahnya bergegas menyiapkan ransum untuk putri tercinta, Alzia. Zia anak yang diharapkan menjadi cahaya di kesunyian keluarga Aminah. Kelahirannya memecahkan kesunyian keluarga Aminah. Zia semakin cemerlang ketika ia menunjukkan kecerdasannya sewaktu duduk di TK. Ia paling fasih dalam melafalkan al-Fatihah. Setiap pelajaran dimulai dan diakhiri, Zia selalu memimpin doa dengan lantunan merdu yang membuat semua yang mendengarkan terhipnotis.
***

Zia sekarang sudah duduk di madrasah aliyah di Pondok Pesantren Al-Hidayah, pesantren yang sederhana di sebuah desa pinggiran Banyuwangi. Beberapa juara MTQ dan tahfiz 20 juz mampu ditaklukan dengan mudah oleh Zia. Sudah belasan piala terpampang di lemari kecil di ruang tamu sederhana yang berlantaikan semen dan berdinding batu bata. Ketekunan, motivasi, dan semangatnya yang membuat ayat-ayat mudah melekat di kepalanya.
Kebiasaan Aminah mengirimkan ransum masakan sederhana kepada Zia dimulai sejak TK. Sampai sekarang pun kebiasaan itu tetap terjaga dan berketerusan sampai sekarang. Ransum yang berisikan masakan dengan kasih sayang, membuat nasi sayur tewel dengan lauk telur itu selalu dinanti kedatangannya oleh Zia. Masakan tersebut terasa istimewa ketika datang ke mulut Zia dengan suapan tangan Aminah yang mulai keriput. Keriput tersebut bukan hanya tanda ketuaannya, tetapi merupakan sejarah goresan-goresan kasih sayang kepada Zia yang telah diukir di kulitnya.
“Gimana setoranmu, Nak?”
“Alhamdulillah Bu, tinggal beberapa surat lagi. Insyaallah sebelum ujian semester sudah bisa khotmil.”
“Alhamdulillah Nak. Kamulah yang penghibur hati Ibu. Kehidupan Ibu serasa lengkap dengan keberadaanmu.”
“Besok, Ibu ke sini lagi atau tidak? Untuk membawakan ransum dengan masakan Ibu.”
“Insyaallah aku akan menunggumu di Gapura Pondok ini ya. Tetapi jika aku tidak terlihat berarti ada lemburan di sawah membantu bapakmu.”
Zia pun tersenyum, dan satu suapan terakhir dari sendok suapan Aminah. Kecupan bibir Zia ke tangan Aminah ibunya menutup percakapan bahagia keduanya.
***
Cahaya mentari menembus jendela pesawat. Suara deru dan tusukan hidung pesawat memecah lautan awan putih. Pandangan Zia menuju luar jendela pesawat, pikirannya mengembara. Impiannya yang tinggi tergantung di langit besama bulan dan bintang-bintang mampu ia gengam.
Official Aksioma Jawa Timur, Bu Maisaroh dan Zia, telah sampai di Bandara Adi Sucipto. Di tempat kedatangan para penumpang, sejenak Ketua Official memberikan arahan tentang acara hari ini dan besok.
***
Aksioma 2017 resmi dibuka. Riuh suara tiga ribu peserta, ratusan panitia, ratusan official, dan yang ikut memenuhi Stadion Mandala Krida, Yogyakarta, serempak lenyap. Perhatian mereka terfokus pada sambutan Menteri Agama RI dan Sultan Hamengku Bawana X.
“Bismillahirohmanirohim, semoga aku bisa membawa kebanggaan waktu pulang nanti,” Zia berkata dalam hatinya yang tanpa tersadar tercermin di mulut mungilnya.
Bu Mai melirik Zia. Sebagai guru pembina tahfiz, ia pun ingin mengobarkan api percaya diri dan semangat agar Zia bisa menampilkan performansi emasnya. Zia adalah santri terbaik dalam bidang MTQ dan Tahfiz yang dimiliki Pondok Al-Hidayah. Dalam membimbing dan manapaki langkah aksioma tingkat nasional ini serasa mudah sekali bagi Bu Maisaroh karena Zia terbilang cerdas.
“Jangan minder, kamu adalah santri yang cerdas. Jika kamu minder, maka akan buyar semua hafalanmu.”
“Baik Bu Mai, saya akan selalu mengingat motivasi dan bimbingan yang telah Ibu berikan kepada saya.”
