Masuknya teknologi informasi ke pesantren telah membuka kesempatan dan ruang kreativitas santri perempuan. Melalui teknologi informasi, santri perempuan bisa menggali beragam informasi yang bisa dijadikan sumber kreativitas berkesenian, sekaligus menjadi sarana menosialisasikan berbagai karyanya di ruang publik.
Teknologi informasi telah melambungkan karya-karya seniman perempuan pesantren, seperti terlihat pada fenomena Khilma Anis, penulis novel Hati Suhita yang menjadi popular karena novelnya best seller. Setelah sukses menulis Hati Suhita, Khilma menulis beberapa novel yang juga mendapat sambutan baik dari publik.

Ada juga penyair perempuan dari pesantren yang karya-karya mampu menembus publik, Nyai Hj Masiyah Amva, pengasuh Pesantren Kebon Jambu Cirebon. Puisi-puisi karya Nyai Hj Masiyah telah mendapat apresiasi publik dan menjadi perbincangan di kalangan penyair. Kretivitas sastra Nyai Hj Mastiyah tertuang dalam 13 buku sastra, 10 di antaranya diterbitkan oleh penerbit Kompas, dan tiga di antaranya adalah antologi puisi.
Fenomena ini menunjukkan berkurangnya hambatan kultural terhadap seniman perempuan untuk berkreasi. Ketika hambatan kultural telah yang membelenggu proses kreatif perempuan pesantren telah tiada, sarana dan prasarana untuk mengaktualisassikan potensi seni tersedia dengan mudah, maka tak ada lagi hambatan bagi perempuan pesantren mengaktualisasikan kreasi seninya.
Saat ini sudah tidak ada lagi hambatan eksternal yang memasung kreativitas seni perempuan pesantren. Kini tinggal hambatan internal yang harus diselesaikan (faktor psikologis ada skill individual). Karena hambatan internal ini sifatnya sangat personal dan individual, maka hanya dapat diselesaikan secara individual dan personal oleh para seniman perempuan pesantren.
Kini saatnya perempuan pesantren berkarya di bidang seni, agar agama menjadi semakin indah dan menarik, karena karya seni perempuan pesantren hakikatnya adalah ekspresi dari spirit religiusitas yang lembut dan penuh keindahan.
