Perempuan Tua di Halte Tua

Meski canggung, Gandari menurut. Duduk di dekat perempuan tua itu. Aroma melati merebak dari tubuh perempuan tua itu. Terlalu harum untuk seorang pengemis, batin Gandari.

Ini benar-benar membingungkan bagi Gandari. Ia tidak mampu menguasai perasaannya. Jiwanya seperti mengambang, bagai kapas melayang ke manapun angin bertiup. Ah, benar-benar hari buruk baginya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Diam-diam Gandari menghela napas dan berharap semua ini hanya mimpi sesaat. Ia melemparkan pandangan jauh ke sana, berharap bus yang dinantinya datang. Tetapi sia-sia. Mungkin bus itu sudah lenyap dari kota ini.

Gandari terkejut ketika perempuan tua itu menyentuh tangannya.

“Berceritalah padaku,” katanya.

“Maksud Nenek?”

“Tak ada orang lain di halte ini. Hanya aku dan kamu. Mengapa kita tidak saling berbagi cerita? Semua orang punya cerita. Berceritalah padaku.”

Gandari mengamati wajah keriput perempuan tua di depannya. Ini semakin aneh. Mereka baru bertemu di pagi itu, tetapi si pengemis tua itu meminta Gandari bercerita tentang dirinya. Mustahil! Gandari tak mungkin menceritakan apapun yang terjadi dalam hidupnya pada orang asing.

“Entahlah. Saya tak mengerti maksud Anda, Nek,” kata Gandari.

“Wajahmu muram seperti menanggung beban yang berat.”

Gandari mengangguk seketika. Ia merasa beban pikirannya mulai berkurang, maka ia pun bercerita tentang dirinya pada perempuan tua itu. Gandari merasa ini hari buruk baginya. Dua tahun belakangan ini kantor Gandari kolaps. Tiras koran terus menurun, pemasukan dari iklan menurun drastis. Banyak media cetak yang tumbang, kalah bersaing dengan media internet. Manajemen memutuskan melakukan rasionalisasi alias PHK karyawan.

Gandari harus terdepak dari kantor dengan alasan sederhana: Gandari baru tiga tahun bekerja, masih muda dan lajang; masih punya peluang untuk bekerja di tempat lain. Sedangkan atasannya, Bu Marina, sudah bekerja selama tiga puluh tahun dan janda beranak tiga, sehingga layak dipertahankan. Kelak, tugas Gandari akan diambil alih Bu Marina.

Di ujung cerita, sepasang mata Gandari berkaca-kaca.

Perempuan tua tersenyum menatap Gandari.

“Tak ada hari buruk. Semua hari baik,” kata perempuan tua, lalu menatap uang lima ribu rupiah di genggaman tangan kanannya. “Kamu telah berbuat baik. Hari ini yang kamu anggap sebagai hari burukmu akan berlalu.”

Gandari terpana.

Tinggalkan Balasan