Perempuan Tua di Halte Tua

“Maaf, apa Nenek peramal?”

Perempuan tua tersenyum dan menggeleng.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Mengapa kamu berpikir begitu? Apa saya tampak seperti peramal?”
“Entahlah, Nek. Tapi saya pikir siapapun akan mengira Nenek adalah peramal.”

Perempuan tua tersenyum, memegang tangan Gandari. Dengan masih menatap Gandari, perempuan tua itu berkata, “busmu sudah datang.”
Gandari terhenyak.

“Bus itu jauh di belakang Nenek. Bagaimana Nenek tahu bus itu sudah datang?”

Perempuan tua terkekeh.

“Apa kamu tidak dengar suara mesinnya yang keras seperti gergaji?”

Kali ini Gandari yang terkekeh. Ia pamit pada perempuan tua itu, dan ketika bus berhenti di halte, ia sigap naik. Sedangkan si perempuan tua masih duduk di halte.

Bus melompong, hanya ada dua penumpang, tiga dengan Gandari. Bus bergerak meninggalkan halte tua. Gandari mengamati kursi-kursi yang kosong, lalu memilih kursi di dekat pintu belakang. Sebelum duduk, Gandari melempar pandangan sejenak ke arah halte, melihat perempuan tua melambaikan tangan padanya.

Ponsel Gandari berdering. Di layar ponsel muncul nama Bu Marina.

“Assalamualaikum. Selamat pagi, Bu Marina?” sapa Gandari di telepon.

“Waalaikumsalam. Gandari, kamu masih ingat tentang cita-citaku bikin usaha katering?”

“Ya, Bu. Saya ingat.”

“Mungkin inilah saat yang tepat untuk mewujudkan cita-citaku itu. Aku akan mengundurkan diri dari kantor. Atasan sudah setuju. Selamat ya, Ndari? Jalanilah masa depanmu penuh semangat.”

“Maksud Bu Marina?”

“Kamu menggantikanku jadi Kepala TU.”

Tinggalkan Balasan