“Dialog kepada Tuhan” sebagai judul sebelum judul akhir, kiranya merupakan representasi dari judul pada covernya. “Ada banyak hantu di dunia ini. Dan hantu tidak melulu menyoal ketakutan atau kisah horor. Ya, kenangan, kejadian yang telah lewat, bisa berubah rupa menjadi hantu. Hadir dengan sosok yang menakutkan sekaligus menyiksa. Siksa batin. Kejadian buruk di masa lalu dan terus teringat di masa mendatang itulah hantu nyata. Melalui celah kosong, bernama mimpi, ia meringsuk masuk. Mengoyak waktu istirahat. Membuat seseorang terjaga. Menjadikan kita seperti manusia yang menunggu ajalnya. Nafas terengah-engah, keringat bercucuran, badan menggigil kedinginan.”
Saya seperti membaca kisah sendiri. Banyak kenangan buruk sering kali hadir tanpa permisi. Menghidupkan rasa bersalah, dan ingin mengulangi tapi waktu tak berputar ke belakang. Menyakitkan. Akhirnya, dan sepertinya satu-satunya cara, adalah memohon, meminta pada Tuhan. Sang pemilik masa lalu dan masa depan. Saat rapal mantra, meditasi, bercerita, hanya berakhir sia-sia. Apalagi kalau bukan doa? Itulah momen terpenting. Takdir bisa kita negosiasikan dengan Tuhan. Meminta semua kembali normal.

Hidup seperti manusia kebanyakan, tanpa dihantui masa lalu yang seperti mencekik leher, mempercepat ajal. Barangkali doa berikut bisa ditiru untuk meredakan sakit yang disuguhkan oleh kenangan buruk, “Tuhan, aku manusia biasa. Aku tersiksa. Jangan permainkan aku lebih dari yang sudah dia lakukan. Engkaulah Tuhan, beri aku jalan.”
Pada akhirnya, kita bisa memesan takdir hidup kita.
Data Buku:
