Kelihaiannya semakin menyembul pada bab berjudul “Cerita Bersajak”. Saat membacanya saya teliti di mana letak kesajakannya, entah pada bacaan ke berapa saya baru sadar, ternyata tiap akhir kalimat dari setiap sub judul –ada tiga sub judul, kalimat terakhir paragraf akhir berbunyi “Kau, perkenalkan, ini wajahku, wajah perempuan yang…” dengan akhir kata berbeda-beda. Di sini juga, saya tersadar bahwa saya tidak punya apa-apa, bahkan napas sekalipun, persisnya tiba di kalimat ini; “Sejak itu aku meminjam napasmu, atau kau yang meminjamkannya untukku. Ah, persetan dengan semua itu, aku ingin tenggelam dalam napasmu.” Kesadaran transenden muncul, napasku pinjaman Tuhan.
Cerita paling saya suka berjudul “Kopi Perempuan”. Sebagai seorang yang terus memproduksi bayangan, ketika melihat warung kopi dan jendela yang darinya pandangan bisa menembus jalan raya, menginginkan bisa menulis semua kejadian, atau paling minim, menangkap satu peristiwa menarik dan bisa menuliskannya jadi cerita yang menarik pula. W Sanavero telah mengobati keinginan itu selama, entah minggu, bulan atau tahun, yang terkurung dalam tempurung imajinasi. Dia telah mewakili keinginan saya untuk menulis sebuah peristiwa yang terinspirasi dari jendala warung kopi dekat jalan raya. Merasa cukup dengan ceritanya. Seolah kutulis kisah itu.

Terlebih, narasinya tentang perempuan merokok. Menggelitik sekali. Bisa-bisanya dia melawan, atau kalau berlebihan, mengurangi saja, stigma negatif atas perempuan merokok. “Aku tidak membicarakan perempuan di luar sana. Aku adalah perempuan dan aku merokok”. Ini, kan, semacam argumen pilihan hidup; memesan, (atau) memilih takdir? “Ya, walaupun perempuan merokok sah-sah saja, hanya terkesan wrong –tidak pas.
“Urusanku di dunia ini, bukan mencari kebenaran dan kesalahan. Seandainya yang kulakukan salah setidaknya aku bisa membuatnya menjadi lebih baik meskipun untuk diriku sendiri.” Ketegasan untuk melakukan suatu hal tanpa mengusik orang lain, berprinsip dan bertanggung jawab atas apa yang dilakukan, tergambar jelas dalam narasi. Setidaknya, itulah jawaban atas pertanyaanku selama ini, kenapa perempuan merokok selalu di-judge negatif?
Pertanyaannya? Bagaimana kita bernegosiasi dengan Tuhan atas takdirnya?
