Perempuan yang Takut Melahirkan

Nyaris satu jam mereka mengobrolkan banyak hal. Dan sepertinya Rahma dan Abrar, nama lelaki itu, memiliki kecocokan satu sama lain. Pelan tapi pasti, Rahma mulai meyakini bahwa Abrar adalah sosok yang selama ini ia damba sebagai calon pendamping hidup. Terlebih ketika Abrar blak-blakan mengaku bahwa dirinya tak mempermasalahkan hadirnya buah hati seumpama mereka nanti menikah.

“Jadi serius nih, Mas Abrar mau nerima aku apa adanya yang seperti ini?” Rahma berusaha menegaskan. Kedua sudut bibirnya terkembang senyuman.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Abrar mengangguk. Menatap Rahma. Tersenyum kecil.

“Ya, asal kamu juga mau menerima saya apa adanya,” ucapan Abrar membuat sedikit ganjalan di hati Rahma.

“Selain persoalan anak, apa ada hal lain, Mas?”

Abrar mengangguk agak ragu. Rautnya yang semula dihiasi senyuman, kini berubah seperti harap-harap cemas untuk mengungkapkan persoalan lain yang sangat privasi.

“Sebenarnya… saya memiliki persoalan sangat pribadi dan… agak sensitif,” terdiam sejenak dan terlihat ragu untuk melanjutkan kalimatnya.

“Tenang saja, Mas. Insya Allah saya bisa menjaga rahasia Mas Abrar,” ucapan Rahma membuat Abrar lega dan berharap Rahma dapat menerima kekurangan yang ada pada dirinya.

“Apakah kamu mau menerima lelaki seperti saya, yang….,”

Terdiam sejenak. Rahma setia menunggu. Dalam hati ia berjanji akan berusaha menerima kekurangan Abrar. Kalau Abrar bisa menerimaku apa adanya, mengapa aku tidak? Gumamnya sambil tersenyum tipis.

“Saya…. nggak bisa berhubungan badan, saya menderita… impo…,” Abrar tak kuasa melanjutkan kata-kata. Kepalanya terbenam. Rahma langsung paham dengan potongan kata yang tak kuasa terucapkan lelaki itu. Rasanya bagai tersengat lebah kedua telinga Rahma begitu mendengar persoalan pribadi lelaki yang duduk gelisah di hadapannya.

Ternyata dugaku keliru. Memang, aku perempuan yang takut hamil dan melahirkan. Tapi aku masih normal, sama seperti perempuan lain yang ingin berhubungan intim dengan lelaki. Ya Tuhan, ternyata kehidupan Mas Abrar lebih menderita ketimbang hidup yang kujalani saat ini. Rahma bergumam dengan hati dirundung bimbang.

Puring Kebumen, 3 Maret 2020.

Tinggalkan Balasan