Ketika ulama meningal untuk selamanya, maka panutan itu sudah tidak ada lagi. Maka jalan menuju kebenaran dan kebaikan menjadi terhambat bahkan menjadi tertutup dan meninggalkan karakter keburukan pada setiap orang. Di dalam Syarh Ushul I’tiqad Ahlissunnah Al-Lalikaiy dijelaskan bahwa kehilangan seorang ahlussunnah saja seperti itu perasaannya apalagi kematian ulama yang menjadi panutan.
Al Imam Al-Hasan Al-Bashri meriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud Ra, “Kematian seorang ulama adalah kebocoran di dalam Islam dan tidak bisa ditutup meskipun malam dan siang datang silih berganti.”

Sa’id bin Jubair pernah ditanya, “Apa tanda kehancuran manusia?” Sa’id menjawab, “Meninggalnya para ulama di tengah mereka.” (Ma’alimut Tanzil 4/327, Dar Thoibah). Sebagimana dijelaskan oleh Habib Ali Abdurrahman Al Habsyi dalam sebuah notifikasi yang tersebar di berbagai sosial media.
Ulama dan Definisinya
Secara etimologi, ulama adalah orang yang berpengetahuan. Berasal dari kata bentuk plural (jamak) yang bentuk tunggalnya adalah ‘alim, orang yang mengetahui dalam segala aspeknya. Dalam pengertian yang lebih luas, ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama (Islam) yang bertugas untuk mengayomi, membina, dan membimbing umat Islam baik dalam masalah-masalah agama atau masalah sehari-hari yang diperlukan, dari sisi keagamaan maupun aspek kehidupan bermasyarakat.
Dalam sebuah keterangan dijelaskan bahwa ada dua macam ulama yang mesti kita ketahui. Pertama, ulama rabbani, yaitu ulama yang memahami keagamaan dalam segala sisi persoalannya dalam Islam. Lebih jauh, ulama ini mampu memberikan petunjuk kepada umat di sekitarnya agar lebih dekat kepada Allah.
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28).
Ayat tersebut memberikan penjelasan bahwa ulama adalah seseorang (bukan hewan, benda, atau tumbuhan) yang mempunyai rasa takut kepada Allah. Takut di sini tidak diartikan sebagaimana takutnya seorang hamba kepada binatang buas, orang jahat, dan lain sebagainya. Tetapi, rasa takut yang disertai dengan pengagungan dan penghormatan dari hamba kepada Tuhannya.
