Perginya Para Ulama

Kedua, ulama su’, yaitu seseorang yang memanfaatkan pengetahuannya demi kehidupan dunia. Dalam hal ini, ulama su’ adalah sebagaimana dijelaskan di dalam al-Quran, “Dan apakah tidak cukup menjadi bukti bagi mereka, bahwa para ulama Bani Israil mengetahuinya?” (QS. Asy-Su’ara’: 197). Dalam al-Quran disebutkan beberapa ciri yang menunjukkan bahwa ulama Bani Israil pada umumnya adalah termasuk ulama su’, dan tidak perlu diteladani. Bahkan termasuk dari Bani Israil sendiri memliki ciri-ciri yang sedemikian.

Beberapa ciri ulma su’, sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran, adalah menyembunyikan kebenaran (QS. Albaqarah: 146), menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah (QS. Ali Imron: 187), mengingkari kebenaran yang diyakini (QS. Albaqarah: 89), mendistorsi ayat-ayat Allah untuk kepentingan diri sendiri (QS. Annisa’: 46), dan memanipulasi kebenaran demi keuntungan duniawi (QS. Albaqarah: 79).

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Karena itu, kita harus berhati-hati terhadap alibi seseorang yang mengaku memiliki pengetahuan agama, sebab boleh jadi hal tersebut termasuk dalam jajaran ulama su’ yang tidak boleh diikuti karena akan menjerumuskan kita ke dalam kesesatan.

Bersama Para Ulama

“Bukanlah bagian dari ummatku, seseorang yang tidak menghormati yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan mengetahui hak-hak para ulama.” (HR. Ahmad).

Imam Abu Bakar Al-Jurri mengatakan bahwa para ulama lebih utama dibandingkan dengan dengan orang mukmin dalam setiap waktu dan kesempatan. Mereka ditinggikan derajatnya dengan ilmu pengetahuan, dihiasi dengan hikmah, mengetahui yang hak dan yang batil, memahami yang halal dan yang haram, dan menjadi cahaya di tengah-tengah kehidupan. Mereka adalah pewaris para nabi dan yang akan memberikan syafaat setelah nabi pada hari kiamat nanti. Ulama yang akan membimbing manusia dari kebodohan menuju dunia pengetahuan yang akan menunjukkan jalan menuju surga.

Oleh karena itu, kita harus mengetahui dan menghormati hak-hak para ulama. Jangan sampai kita menghina para ulama, menyakiti hatinya baik dengan perkataan maupun perbuatan. Ingatlah sebuah hadits, “Sesungguhnya Allah ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat dan menyesatkan.” (HR. Bukhari).

Kita berlindung kepada Allah dari tipu daya pecundang (ulama su’ atau ulama sesat) yang akan mengajak kita ke jalan kesesatan. Wallahu A’lam!

Tinggalkan Balasan