Perihal Jihad dan Ijtihad

Perang-perang melawan orang-orang kafir di palagan itu ternyata hanyalah “jihad kecil”—perkara sepele. Usai Perang Badar, Nabi Muhammad mengingatkan bahwa kelak orang-orang beriman akan menghadapi “jihad besar”, perang yang sesungguhnya, yang disebut dengan jihadun nafs, perang melawan hawa nafsu, perang melawan diri sendiri. Dan palagan yang sebenarnya ada di dalam diri sendiri.

Tanpa perlu dalil yang ndakik-ndakik, akal sehat akan menuntun kita ke alamat yang dirujuk oleh istilah jihadun nafs, jihad besar, atau perang melawan hawa nafsu, itu. Seringkali, digarami oleh euforia kemenangan, atau klaim akan kebenaran, manusia menjadi pribadi yang congkak, sombong, dan melupakan sangkan paraning dumadi. Suasana batin seperti itulah yang sempat menyeruak pasca-Perang Badar, sehingga Nabi Muhammad perlu meluruskannya.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tapi jihadun nafs itu memang tidak seksi. Karena itulah, meskipun terminologi jihad memiliki pengertian yang luas, yang lebih sering didengung-dengungkan dari atas mimbar adalah “jihad kecil” itu, dengan makna yang lebih reduktif. Jihad akhirnya menjadi identik dengan perang, atau memerangi musuh, memerangi yang tak seiman, memerangi yang tak sepaham, bahkan memerangi yang dibenci. Pada akhirnya orang akan digiring oleh hanya satu referensi, bahwa jalan menuju surga adalah jalan perang.

Meskipun berasal dari akar kata yang sama dengan jihad, jahada, yang berarti “usaha yang bersungguh-sungguh”, ijtihad lebih jarang disinggung oleh para pendakwah masa kini atau diunggah di berbagai jejaring media sosial dalam kerangka ghirah gerakan Islam. Padahal, istilah ijtihad juga sudah ada sejak zaman Nabi Muhammad, dan tak kalah penting perannya dengan jihad dalam penyebaran Islam. Dan justru, tradisi ijtihad itulah yang disebut-sebut sebagai pembuka jalan bagi pengembangan peradaban dunia Islam di masa-masa awal hingga abad-abad pertengahan.

Tinggalkan Balasan