Perjalanan Sunyi ke Sidratil Muntaha

Sidratil Muntaha, sebagai puncak perjalanan Mikraj, memiliki makna simbolik yang sangat dalam dalam tradisi tasawuf. Ia disebut sebagai batas akhir pengetahuan makhluk. Bahkan Malaikat Jibril, yang selama ini mendampingi Rasulullah, tidak mampu melampaui batas tersebut. Dalam tasawuf, ini menegaskan bahwa ada wilayah makrifat yang tidak dapat dicapai oleh akal, ilmu, bahkan makhluk spiritual tertinggi sekalipun. Hanya seorang hamba yang dipilih dan disucikan oleh Allah yang dapat melangkah ke wilayah tersebut.

Namun, Sidratil Muntaha bukanlah tempat keagungan ego. Justru, ia adalah simbol kefanaan total diri di hadapan Allah. Dalam tasawuf, maqam tertinggi bukanlah baqa’ tanpa fana’. Rasulullah mencapai kedekatan tertinggi bukan karena keakuan, melainkan karena pengosongan total diri dari selain Allah. Inilah hakikat tauhid yang murni: lenyapnya segala klaim selain kehendak Ilahi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Menariknya, Rasulullah tidak berhenti di Sidratil Muntaha untuk menikmati pengalaman spiritual tersebut. Beliau kembali ke Bumi membawa amanah salat bagi umatnya. Dalam perspektif tasawuf, hal ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada ekstase, melainkan kembali ke dunia untuk menunaikan tanggung jawab. Seorang sufi sejati bukanlah mereka yang larut dalam pengalaman batin, tetapi yang mampu menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sosial.

Salat, yang diwajibkan dalam peristiwa Mikraj, sering disebut oleh para sufi sebagai “mikrajnya orang beriman”. Artinya, setiap Muslim diberi kesempatan untuk menempuh perjalanan spiritual harian melalui salat. Dalam tasawuf, salat bukan sekadar gerakan lahiriah, tetapi dialog batin antara hamba dan Tuhan. Ketika salat dilakukan dengan khusyuk, seorang hamba sesungguhnya sedang menapaki jalan menuju Sidratil Muntaha-nya masing-masing.

Isra Mikraj juga mengajarkan keseimbangan antara syariat dan hakikat. Rasulullah mencapai maqam tertinggi tanpa pernah meninggalkan syariat. Hal ini menjadi kritik tajam terhadap spiritualitas yang mengabaikan hukum dan etika. Dalam tasawuf Sunni, syariat adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Tanpa syariat, perjalanan spiritual berubah menjadi ilusi dan kesesatan. Rasulullah menjadi teladan bahwa puncak spiritualitas justru dicapai melalui kepatuhan total kepada perintah Allah.

Tinggalkan Balasan