Peristiwa Isra dan Mikraj menempati posisi istimewa dalam khazanah spiritual Islam. Ia bukan sekadar mukjizat yang melampaui nalar manusia, melainkan sebuah perjalanan batin yang merepresentasikan puncak kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya.
Dalam perspektif tasawuf, Isra Mikraj dapat dipahami sebagai perjalanan suluk Nabi Muhammad SAW, sebuah perjalanan ruhani yang menyingkap hakikat hubungan antara manusia, alam semesta, dan Allah SWT. Puncak perjalanan itu, Sidratil Muntaha, bukan sekadar tempat, melainkan simbol kesadaran tertinggi dalam makrifatullah.

Tasawuf memandang kehidupan manusia sebagai perjalanan menuju Tuhan. Seorang salik menempuh jalan panjang yang dipenuhi ujian, pengosongan diri, dan penyucian jiwa. Dalam konteks ini, Isra Mikraj bukanlah peristiwa yang terpisah dari realitas kemanusiaan Nabi Muhammad, melainkan klimaks dari kehidupan spiritual beliau yang sarat penderitaan, pengabdian, dan kesetiaan pada risalah. Perjalanan menuju Sidratil Muntaha terjadi setelah Rasulullah melewati fase paling sunyi dalam hidupnya, masa yang dikenal sebagai ‘Amul Huzn. Kesedihan, dalam tasawuf, sering kali menjadi pintu terbukanya cahaya Ilahi.
Isra, perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dapat dibaca sebagai tahap penyucian ruang dan sejarah. Dalam pandangan tasawuf, perjalanan spiritual selalu dimulai dari kesadaran akan akar dan tradisi. Masjidil Aqsa menjadi simbol kesinambungan tauhid para nabi. Di sanalah Rasulullah mengimami para nabi terdahulu, menandai bahwa jalan spiritual Islam tidak memutus tradisi kenabian, melainkan menyempurnakannya. Dalam suluk tasawuf, pengakuan terhadap rantai spiritual (silsilah) merupakan syarat penting sebelum seorang salik melangkah lebih jauh.
Mikraj, kenaikan Rasulullah ke langit-langit Ilahi, melambangkan perjalanan batin menuju maqam-maqam spiritual. Setiap lapisan langit yang dilewati Nabi dapat dimaknai sebagai tahapan kesadaran. Dalam tasawuf, seorang salik harus melewati maqam taubat, sabar, zuhud, tawakal, hingga ridha. Perjumpaan Rasulullah dengan para nabi di setiap langit mencerminkan dialog batin antara nilai-nilai spiritual yang diwariskan sepanjang sejarah kenabian.
Sidratil Muntaha, sebagai puncak perjalanan Mikraj, memiliki makna simbolik yang sangat dalam dalam tradisi tasawuf. Ia disebut sebagai batas akhir pengetahuan makhluk. Bahkan Malaikat Jibril, yang selama ini mendampingi Rasulullah, tidak mampu melampaui batas tersebut. Dalam tasawuf, ini menegaskan bahwa ada wilayah makrifat yang tidak dapat dicapai oleh akal, ilmu, bahkan makhluk spiritual tertinggi sekalipun. Hanya seorang hamba yang dipilih dan disucikan oleh Allah yang dapat melangkah ke wilayah tersebut.
Namun, Sidratil Muntaha bukanlah tempat keagungan ego. Justru, ia adalah simbol kefanaan total diri di hadapan Allah. Dalam tasawuf, maqam tertinggi bukanlah baqa’ tanpa fana’. Rasulullah mencapai kedekatan tertinggi bukan karena keakuan, melainkan karena pengosongan total diri dari selain Allah. Inilah hakikat tauhid yang murni: lenyapnya segala klaim selain kehendak Ilahi.
Menariknya, Rasulullah tidak berhenti di Sidratil Muntaha untuk menikmati pengalaman spiritual tersebut. Beliau kembali ke Bumi membawa amanah salat bagi umatnya. Dalam perspektif tasawuf, hal ini menegaskan bahwa spiritualitas sejati tidak berhenti pada ekstase, melainkan kembali ke dunia untuk menunaikan tanggung jawab. Seorang sufi sejati bukanlah mereka yang larut dalam pengalaman batin, tetapi yang mampu menghadirkan Tuhan dalam kehidupan sosial.
Salat, yang diwajibkan dalam peristiwa Mikraj, sering disebut oleh para sufi sebagai “mikrajnya orang beriman”. Artinya, setiap Muslim diberi kesempatan untuk menempuh perjalanan spiritual harian melalui salat. Dalam tasawuf, salat bukan sekadar gerakan lahiriah, tetapi dialog batin antara hamba dan Tuhan. Ketika salat dilakukan dengan khusyuk, seorang hamba sesungguhnya sedang menapaki jalan menuju Sidratil Muntaha-nya masing-masing.
Isra Mikraj juga mengajarkan keseimbangan antara syariat dan hakikat. Rasulullah mencapai maqam tertinggi tanpa pernah meninggalkan syariat. Hal ini menjadi kritik tajam terhadap spiritualitas yang mengabaikan hukum dan etika. Dalam tasawuf Sunni, syariat adalah fondasi yang tidak boleh ditinggalkan. Tanpa syariat, perjalanan spiritual berubah menjadi ilusi dan kesesatan. Rasulullah menjadi teladan bahwa puncak spiritualitas justru dicapai melalui kepatuhan total kepada perintah Allah.
Sidratil Muntaha juga dapat dimaknai sebagai simbol batas kesombongan manusia. Dalam perjalanan spiritual, ada titik di mana manusia harus berhenti mengandalkan diri dan menyerahkan segalanya kepada Allah. Kesadaran akan keterbatasan inilah yang melahirkan kerendahan hati. Rasulullah, meskipun mencapai maqam yang tidak dicapai makhluk lain, tetap menyebut dirinya sebagai hamba. Inilah inti tasawuf: semakin tinggi maqam seseorang, semakin dalam rasa kehambaannya.
Dalam konteks kehidupan modern, Isra Mikraj menawarkan kritik terhadap spiritualitas instan. Tasawuf mengajarkan bahwa kedekatan dengan Tuhan tidak dapat diraih secara cepat dan dangkal. Ia membutuhkan disiplin, kesabaran, dan kejujuran batin. Rasulullah menempuh perjalanan panjang kehidupan sebelum mencapai Mikraj. Pesan ini relevan bagi manusia modern yang sering mencari jalan pintas spiritual tanpa transformasi moral.
Isra Mikraj juga menunjukkan bahwa penderitaan bukan tanda keterpisahan dari Tuhan. Justru, dalam tasawuf, penderitaan sering menjadi sarana pembersihan jiwa. Rasulullah mengalami penolakan, penghinaan, dan kesedihan mendalam sebelum dianugerahi Mikraj. Ini mengajarkan bahwa ujian hidup dapat menjadi undangan Ilahi untuk naik ke tingkat kesadaran yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, Sidratil Muntaha bukan sekadar kisah tentang langit dan cahaya. Ia adalah simbol perjalanan batin manusia menuju Tuhan. Setiap insan dipanggil untuk menempuh Isra Mikraj-nya sendiri: meninggalkan keterikatan duniawi, menapaki jalan kesadaran, dan kembali ke kehidupan dengan membawa nilai-nilai Ilahi. Dalam perspektif tasawuf, inilah makna terdalam Isra Mikraj: perjalanan dari Tuhan, bersama Tuhan, dan kembali untuk Tuhan.
