Ketika sampai di rumahnya, kami pun mengobrol dengan panjang lebar dan ngalur ngedul, dari soal kabar, aktivitas sehari-hari, hingga perkuliahan. Setelah cukup lama kami mengobrol kurang lebih dua jam, tiba-tiba teman saya menyodorkan sebuah buku bertajuk Tuhan Tidak Perlu Dibela itu. Dalam benak orang awan seperti saya, masa iya Tuhan tidak perlu dibela? Bukankah Tuhan harus dibela dari siapapun yang ingin merendahkan-Nya.
Walaupun dalam benak terjadi gejolak sekaligus penolakan (maklum baru pertama), tetapi saya tetap berkeinginan untuk membacanya. Sebab, menurut saya, judul buku itu bertolak belakang dengan cara berpikir orang kebanyakan pada umumnya (seperti cara berpikir saya tadi). Namun, ketika saya baca lembar demi lembar dan halaman demi halaman, akhirnya sampai pada bacaan di bagian 16 halaman 65-68 dengan topik “Tuhan Tidak Perlu Dibela”, pikiran saya dikritik dan diobrak-abrik habis-habisan.

Dalam buku itu, Gus Dur menulis “Allah itu Maha Besar. Ia tidak memerlukan pembuktian akan kebesaran-Nya. Ia Maha Besar karena Ia ada, apapun yang diperbuat orang atas diri-Nya, sama sekali tidak ada pengaruhnya atas wujud-Nya dan atas kekuasaan-Nya.”
Tak hanya itu, Gus Dur, kemudian mengutip pendapat seorang tokoh sufi, Al-Hujwiri: “Bila engkau menganggap Allah ada hanya karena engkau yang merumuskannya, hakikatnya engkau sudah menjadi kafir. Allah tidak perlu disesali kalau “Ia menyulitkan” kita. Juga tidak perlu dibela kalau orang menyerang hakikat-Nya. Yang ditakuti berubah adalah persepsi manusia atas hakikat Allah, dengan kemungkinan kesulitan yang diakibatkannya.”
Dari pemaparan teks tersebut, Gus Dur hendak bermaksud mengatakan kepada kita bahwa interpretasi terhadap agama dalam realitas kehidupan, baik melalui aksi maupun dalam bentuk penafsiran atas teks-teks yang dipandang suci tak perlu “mengatasnamakan Tuhan” atau “demi kehendak Tuhan”, apalagi “untuk membela Tuhan”.
