Akan tetapi, menurut Gus Dur, seharusnya didasarkan atas kepentingan manusia dan nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri demi terciptanya kesejahteraan bersama. Sebab, boleh jadi apa yang dilakukan seseorang di atas panggung politik yang dinilai bertujuan membela Tuhan “justru malah mengurangi status ke-Maha-an-Nya.”
Akhirnya, meskipun perkenalan kali pertama saya terhadap Gus Dur hanya melalui karya-karyanya, namun hal itu memberikan arti tersendiri bagi diri saya. Melalui Gus Dur (membaca karya-karyanya), saya bisa mengenal pemikiran tokoh-tokoh intelektual Muslim berpengaruh di dunia seperti Hassan Hanafi, Asghar Ali Engineer, Muhammad Abid al-Jabiri, dan lain-lain. Bahkan, melalui Gus Dur pula, saya diajarkan tentang pentingnya menjalin hubungan baik di antara sesama manusia dan berpikiran inklusif.

Hal ini, tentu saja, tak bisa dilepaskan dari laku hidup dan pemikiran-pemikiran Gus Dur itu sendiri yang dikenal inklusif, progresif, toleran, moderat, humanis, dan lain-lain. Sehingga, gagasan-gagasan yang digulirkan, terutama tentang pemikiran keislamannya masih segar dan bahkan tetap relevan sampai kapanpun (Shalih li Kulli Zaman wa Makan).
Oleh karena itu, orang yang mengenal Gus Dur tak akan menyesal, bahkan ingin mengenalnya lebih jauh. Walaupun, tak dapat dimungkiri bahwa pemikirannya kerap menuai kontroversi, tentu bagi yang tak memahami jalan berpikirnya. Akan tetapi, itulah Gus Dur, sosok yang tak mudah untuk ditebak. Wallahu A’lam.
