Ya, tenang saja. Kau jangan khawatir. Aku juga mengawasi anakmu dari jauh. Kemarin, aku membelikannya es krim dua kotak dan biskuit cokelat. Aku memintanya makan di rumah. Tak ada yang tahu. Aku memanggilnya saat dia bermain. Ngomong-ngomong, bagaimana keadaanmu di sana.
Aku terus menyimaknya. Namun, ada jeda selama dua menit. Pesan suara balasan dari Isna masuk setelahnya dengan suara mendayu-dayu dan sedikit berbisik sebagaimana suara rekaman sebelumnya.

Di sini masih belum aman, Yu. Aku dan beberapa orang lainnya masih sembunyi di hutan saat ini. Polisi menggeledah rumah susun. Aku beserta yang lainnya, juga ada orang India berhasil selamat kecuali Punadin dan menantunya. Mereka tertangkap dan kami masih belum tahu bagaimana kabarnya.
Balasan ibuku dramatis. Suaranya menanjak, kaget.
Apanya? Punadin dan menantunya itu tertangkap? Bagaimana bisa?
Jadi begini, Yu. Patroli polisi itu berlangsung di awal Isya. Kami mendapat kabar dadakan waktu Magrib kalau akan ada penggeledahan. Kami segera kabur tanpa persiapan apa pun sedangkan mereka ada di lantai tiga melaksanakan salat Isya. Kami dapat kabar itu dari Mbak Rita.
Siapa Mbak Rita?
Orang melayu bersuami satpam di sini. Dia baik. Kalau ada penggeledahan, suaminya akan memberi tahu. Tapi entah mengapa malam itu dia kecolongan.
Kamu berapa hari sembunyi di situ?
Sudah hampir dua hari.
Apa yang kamu makan, Is?
Entahlah. Selama dua hari ini, kami belum makan apa-apa.
Lalu Ibu membalas dengan isakan pula.
Ya. Hati-hati di sana. Awas ular dan binatang buas. Aku pun belum bisa menerima kabar ini apalagi kabar Punadin yang tertangkap. Aku hawatir dia dipukul.
Semoga saja tidak, Yu. Kita doakan bersama.
Doa selalu kupanjatkan, Is. Sepanjang waktu. tekannya.
Aku ingat siapa Punadin itu. Dia suami Bik Ramlah. Kabarnya, dia berangkat bersama menantunya serombongan dengan Isna dari desa ini. Aku tak tahu, mengapa Ibu begitu terenyuh dan bersimpati berlebihan. Aku melanjutkan rekaman suara berikutnya, masih rekaman suara Ibu.
Lalu, apa Sappak datang membantunya?
Sappak adalah perantau terlama dari desa ini. Dia bertahun-tahun ada di negeri jiran. Ibu bilang kalau sejak aku belum lahir, dia sudah merantau dan sekarang umurku delapan belas tahun sudah. Dia tidak berkeluarga tapi punya seorang Ibu yang renta dan berharap anak satu-satunya itu berhenti mengiriminya uang. Dia mau anaknya yang datang.
Saya kurang tahu hal itu, Yu. Belum ada kabar. Namun, harapan pasti ada. Bukankah setiap orang yang kena tangkap pasti bebas jika dia yang mengurusnya?
Betul. Aku khawatir saja dia disiksa, dipukuli.
