Pesan Suara Ibu

Rekaman beralih pada hal lain, tentang bank, hutang suami Isna dan macam-macam. Aku tidak menyimaknya hingga selesai, terlalu banyak. Aku menyudahinya dan beralih pada kegiatan bermedia sosialku sendiri.

***

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Suatu hari, pada pertengahan bulan Ramadan, entah mengapa, aku memberitahu Ibu bahwa ada pesan suara dari Isna. Spontan. Aku garuk-garuk kepala sendiri.

“Ibu bawa dulu HP ini.” katanya dan berbicara via whatsapp kembali.

Aku merutuk dalam hati. Dia bilang ke Ayah mau pergi ke rumah Ruyani, tetangga beda enam rumah dari rumah kami. Ruyani adalah teman baik Ibu, pernah terlilit hutang juga dan pernah merantau ke negeri jiran bersamanya. Setengah jam kemudian, dia balik dan memberikan HP itu padaku dan pergi memasak untuk buka puasa.

Aku membuka whatsapp. Di bagian paling atas ada nama Isnaa2—karena nomor Isna ganti-ganti. Banyak orang mencarinya. Ibu menamainya berdasar kemudahannya sendiri—dengan dua notifikasi masuk. Aku memencetnya. Terdengar suara Isna mendayu.

Ya, Yu. Hapus saja biar aman.

Ya, ya.

Hanya itu. Bagiku, pesan suara itu mencurigakan. Isna bilang seperti itu namun dia membalas dua bilah pesan Ibu sebelumnya yang telah dihapus. Aku penasaran. Aku berselancar di internet mencari tahu bagaimana caranya memulihkan pesan suara yang telah dihapus. Hanya butuh lima belas menit, aku bisa memulihkan semua percakapan mereka dalam bentuk pesan suara.

Aku menyimaknya satu-satu dan paham kalau Isna dan yang lainnya sudah kembali ke rumah susun. Mereka membahas apa yang terjadi di sana. Namun, dadaku bergolak ketika percakapan mereka menyinggung Punadin dan menantunya.

Punadin bagaimana, Is? Apakah dia sudah bebas?

Ya, Yu. Cuma, Sappak minta uang ganti tebusan.

Uang apa?

Isna menjelaskan panjang lebar. Aku tidak begitu paham dengan istilahnya. Intinya, setelah melalui beberapa proses yang rumit, Punadin dan menantunya dapat dibebaskan oleh Sappak dengan biaya yang tidak sedikit.

Berapa itu, Is?

Empat ribu ringgit. Dia kelimpungan mencari pinjaman di dini.

Biar saya yang cari saja di sini. Asalkan dia selamat dan bebas dari polisi.

Yu, apa kamu tidak takut pada suamimu?

Mau bagaimana lagi, Is. Asal kau jaga mulut, dia tidak akan tahu apa-apa. Selain kau tak ada yang tahu. Lagi pula, Punadin tidak suka lagi pada Bik Ramlah. Dia lebih memilihku.

Mendengarnya, aku terpaku. Tidak percaya. Aku tidak melanjutkan menyimak pesan suara setelahnya. Apakah Ibu selingkuh?

Lubangsa, 10 Ramadan 1444 H/01 April 2023.

Tinggalkan Balasan