Hati-hati dan Waspada
Banyak cara setan dalam menjerumuskan manusia ke dalam kesesatan. Oleh karena itu, sebagai manusia, apapun bentuk kedalaman ilmu yang dimiliki, kita harus tetap berhati-hati dan selalu waspada. Tidak sedikit ibrah atau contoh kasus sejarah bahwa orang yang alim sekalipun dapat terjerumus ke dalam kesesatan. Hal itu disebabkan karena keangkuhan dan merasa sombong terhadap dirinya sendiri.

Mawas diri adalah bagian dari ikhtiar manusia untuk terhindar dari lelaku yang tidak sepantasnya. Ketika karakter kehati-hatian telah tertanam kuat dalam jiwa kita, itu artinya kita berkomitmen untuk senantiasa berlaku kebaikan. Dan tentu saja, untuk terhindar dari persoalan dosa diperlukan karakter rendah diri dan tidak sombong (andhap asor).
Belajar dari kasus Herry Wirawan, ada beberapa hal yang pantas kita jadikan catatan. Pertama, pelecehan seksual adalah bentuk penentangan terhadap konsep Allah swt dan Rasul-Nya. Kalau dalam Islam, pelaku kejahatan seks pantas untuk dirajam. Rajam adalah siksaan dan hukuman mati bagi pelanggar hukum dengan cara dilempari batu. Prosesi rajam dilakukan dengan cara tubuh pelanggar hukum ditanam berdiri di dalam tanah setinggi dada, lalu dilempari batu hingga mati (wikipedia).
Kedua, pelaku pemerkosaan harus diberi pelajaran yang setimpal. Kalau kata Dedi Corbuzher, harus dihukum mati. Agar menjadi pelajaran kepada lainnya, bahwa menjadi predator seks memiliki konsekuensi besar yang harus dipertanggung-jawabkan. Ketiga, harus dijadikan pelajaran bagi kita bahwa status di dunia, apapun itu namanya, tidak menjamin kita untuk berlaku baik dan demi kebaikan. Mengatasnamakan lembaga atau status sosial tertentu untuk melakukan suatu kejahatan tidak jarang dilakukan oleh manusia-manusia pecundang.
Eksistensi pesantren sebagai lembaga keagamaan tetaplah suci. Apalagi diketahui kemudian bahwa pesantren hanya dijadikan kedok untuk meraup finansial. Bahkan jika pun seseorang itu adalah otorias pesantren, maka keberadaan pesantren tetap dalam marwah dan kharisma yang sebenarnya.
