Pesantren dan Ekologi Konservasi Sampah*

Dalam sebuah rilis penelitian yang diterbitkan tahun 2015, para peneliti dari Universitas Georgia yang dipimpin oleh Jenna Jambeck membuat pemeringkatan negara-negara pembuang sampah plastik terbanyak ke laut. Dari estimasi total 275 metrik ton (MT) sampah plastik yang diproduksi dari 192 negara di seluruh dunia pada tahun 2010, diperkirakan terdapat antara 4,8-12,7 juta MT masuk ke laut lepas (Bintarsih Sekarningrum, 2017, hal. 9-10). Kondisi ini menjadi problem kita bersama, termasuk santri yang mesti menjadi garda terdepan dalam penanggulangan sampah.

Maka sudah menjadi keharusan bahwa pesantren harus mencari solusi atas persoalan sampah yang sangat meresahkan. Apalagi sebagai lembaga yang mengedepankan kesucian dan kebersihan, pesantren dituntut untuk mewujudkan relaisasi atas persoalan sampah agar tidak menjadi bumerang bagi pesantren itu sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Konservasi Sampah

Konservasi sampah adalah upaya untuk meminimalkan dampak negatif sampah terhadap lingkungan. Salah satu cara untuk melakukan konservasi sampah adalah dengan menerapkan 3R, yaitu Reduce (pengurangan), Reuse (pemanfaatan kembali), dan Recycle (pendaurulangan).

Salah satu pesantren yang melakukan konservasi sampah dengan segala teknisnya adalah PP Annuqayah Sumenep di Jawa Timur. Pesantren yang ada di ujung timur Pulau Madura ini telah sejak lama melakukan upaya-upaya untuk meminimalisir dampak sampah. Kegiatan untuk menangani dampak sampah telah menjadi ikhtiar sejak awal. Karena Islam merupakan agama yang berpedoman pada kaidah “Annadzafatu minal iman; kebersihan adalah sebagian dari iman.”

Demikian juga dengan PP Tanwirul Hija yang berdomisili di Lenteng, Sumenep, Jawa Timur. Pondok pesantren ini juga memaksimalkan ikhtiar untuk menanggulangi dampak negatif sampah. Jika diupayakan dengan maksimal, bukan tidak mungkin, sampah yang berdampak negatif akan memberikan nilai-nilai edukasi yang bersifat positif.

Sementara itu, dilansir dari laman tmial-amien.sch.id, bahwa Pesantren Al-Amin Prenduan begitu konsen terhadap kebersihan lingkungan. Kampanye Anti Sampah (KAS) di lingkungan Ma’had TMI telah digelar beberapa tahun yang lalu dan dibuka langsung oleh KH Dr Ghozi selaku pengsuh Ma’had TMI. Program yang termasuk terobosan baru di lingkungan Ma’had TMI itu dikomando langsung oleh salah satu anggota Majelis Permusyawaratan Organtri (MPO), Ustaz Abd Basith.

Tujuan utama dilaksanakannya program ini adalah untuk mengelola sampah-sampah di lingkungan TMI dengan cara yang lebih professional dan efektif, selain sebagai bagian dari media pelekat santri terhadap salah satu kegiatan positif yang paling dicintai oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW, yaitu kebersihan.

Daur Ulang Sampah

Tinggalkan Balasan