Berbincang masalah sampah dan ekologi lingkungan, entah kenapa tiba-tiba saya bernostalgia dengan pesantren pertama saya untuk mengais pundi-pundi pengetahuan pas Aliyah dulu. Ya, sebuah pondok pesantren yang cukup berada di kedalaman Sumenep, lebih tepatnya Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.
Di pesantren itulah pertama kali saya berhasil dekat dengan alam. Dekat dengan alam dalam artian bisa merawat dan menjaga lingkungan dengan baik. Saya merasakan langsung bagaimana ditegur keras pengurus keamanan cuma gara-gara beli nasi terus dibungkus pakai plastik. Dipikir-pikir apa masalahnya cobak, kalau pun iya, masalah yang sepele juga kan? Iya gak sih?

Penasaran akan letak permasalahannya, sehabis dimarahin saya langsung bergegas untuk menanyakan hal itu kepada senior. Tanpa disangka mendengar curhatan saya, senior cuma bisa cengar-cengir tanpa dosa. Hingga akhirnya, setelah dijelaskan panjang lebar oleh senior, saya paham betul betapa plastik bungkus nasi itu mempunyai dampak buruk terhadap lingkungan atau alam. Kata senior, “Dampaknya memang bukan sekarang, tapi lihatlah nanti.”
Coba bayangkan, betapa banyak sampah plastik yang dihasilkan setiap harinya jika setiap santri yang membeli nasi menggunakan bungkus plastik? Mengingat, data santri Annuqayah ketika tahun terakhir saya mondok berhasil mencapai angka 13 ribu lebih dari semua cabang. Itu artinya, jika setiap santri makan dua kali sehari tanpa menafikan bungkus plastik setiap makan, betapa akan banyak sampah plastik yang akan dihasilkan di setiap harinya?
Atas dasar inilah kemudian saya sadar, bahwa larangan untuk tidak menggunakan bungkus plastik setiap kali makan memang tampak begitu remeh, tapi bagaimana pun itu, mau remeh sekalipun, hal ini bukanlah perkara mudah. Butuh yang namanya kesadaran lebih untuk membentuk menjadi sebuah kebiasaan. Hanya dengan ikhtiar remeh ini, telah membuktikan kepedulian santri pada alam dan lingkungan.
Sekarang, saya berada di lingkungan pondok pesantren yang tidak jauh berbeda dengan pondok pesantren sebelumnya. Tidak jauh berbeda dalam hal yang berkaitan dengan spirit untuk membangun kesadaran bersama akan pentingnya untuk merawat dan menjaga alam dengan baik. Dengan melarang santri-santrinya untuk tidak menghidangkan konsumsi berbau plastik setiap kali ada kegiatan, menjadi bukti nyata di mana Pondok Pesantren Al-Anwar 3 Sarang Rembang—dalam istilah M. Faizi di bukunya—berusaha untuk tidak merusak bumi dari meja makan.
Dua pesantren ini hanyalah tamsil kecil betapa pesantren sekarang mulai hadir untuk merespon fenomena sampah yang tiap hari semakin membeludak. Selain pesantren ini, bisa dipastikan juga banyak pesantren-pesantren di luar sana yang mempunyai spirit sama dalam mengatasi problem lingkungan, khususnya sampah.

2 Replies to “Pesantren dan Jihad Ekologi Santri”